Sabtu, 27 Februari 2016

TAHLILAN dan YASINAN

Dalam kehidupan khususnya kebudayaan kata-kata tersebut sudah sangat tidak asing di telinga orang Indonesia, khususnya Jawa. Kegiatan tersebut pada hakikatnya berhubungan dan bertalian erat dengan ritual keagamaan. Dalam pengungkapan dan rasa wujud syukur orang Jawa biasanya dipahami dengan penuh filosofis dan mendalam. Dalam konteks tulisan kali ini saya ingin membagi pengetahuan mengenai Tahlilan, Dalilan, dan Yasinan dari sudut pandang termonilogi yang mendalam, khususnya dalam hal pemaknaannya.
Tahlilan dan Yasinan pada umunya dilaksanakan pada malam Jum’at secara berjamaah di salah satu rumah seorang warga masyarakat, baik yang bersifat rutin maupun tidak rutin (setiap daerah memiliki perbedaan). Awalnya kegiatan ini dimulai dengan awalan doa-doa terlebih dahulu, yaitu seperti Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An Nas, Ayat Kursi, Tahlil, Tahmid, Takbir, dan Dzikir, barulah dilanjutkan dengan membaca tahlil sebanyak 99 kali atau kadang lebih. Pada hakikatnya doa ini secara to the point diutarakan untuk mendoakan leluhur si tuan rumah, namun kebanyakan juga menyebutkan “doa ini kita tujukan kepada nabi, keluarganya, sahabatnya, dan kepada leluhur kita semua”. Setelah selesai barulah acara dilanjutkan dengan membaca doa yang dipimpim oleh ketua adat atau tokoh wilayah setempat dan diikuti seluruh jamaah dengan mengatakan “amin”.
Dalam adap orang Jawa, sering kali dipenuhi dengan rasa hormat dan menghormati terhadap tamu, maka dari itu si tuan rumah menyiapkan hidangan kepada jamaah yang hadir dalam acara doa tersebut. Hal ini ditujukan; pertama, sebagai wujud rasa tanda hormat atas kedatangan seorang tamu; kedua, sebagai tanda wujud syukur atas rahmat dan rejeki yang diberikan oleh Allah dan sebagai bentuh sedekah si tuan rumah untuk mensucikan hartanya; dan ketiga, sebagai wujud tanda terima kasih atas kedatangan dan doa yang telah diberikan kepada leluhur si tuan rumah.
Dalam konteks kekinian, sidikit di sini saya ingin membahas mengenai konsep yang terkandung dalam tahlilan dan yasinan yang sering dilakukan oleh masyarakat Jawa. Belakangan ini banyak kita mendengar orang mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan sesuatu yang tidak dituntunkan oleh Nabi Muhammad, tidak sesuai tuntunan agama, memberatkan dan membebani seseorang, dan lain sebagainya. Banyak sekali orang hanya melihat secara dasar saja, tanpa menganalisis lebih dalam dan kritis mengenai hakikat sebenarnya kegiatan tersebut.
Tahlilan pada dasarnya adalah kegiatan dimana itu adalah tuntunan kita sebagai umat islam mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Bagaimana bisa? Padahal itu tidak dilaksanakan oleh nabi. Coba kita tengok dan buka buku sebentar. Masih ingat perkataan nabi yang menyatakan bahwa ada 3 amalan yang tidak akan putus bahkan ketika kita sudah di alam kubur, yaitu ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah, dan anak sholeh sholehah yang mendoakan kedua orang tuanya. Dalam konsep Tahlilan hakikatnya mencakup ketiga anjuran tersebut, khususnya yang ketiga.
Selama ini kebanyakan orang memahami konteks anak sholeh yang mendoakan orang tuanya sebatas pada sehabis shalat anak mendoakan orang tuanya, datang berzarah kubur, dan beberapa kegiatan lainnya. Namun lebih dari itu, mengenai tahlilah pada dasarnya lebih dari itu saja, disana disebutkan bahwa mereka mendoakan untuk leluhur mereka, dalam artian bahwa yang didoakan bukan saja orang tua mereka saja, tetapi mereka yang telah meninggal dunia dan berhubungan dengan keluarganya, entah bapaknya kakek, kakeknya kakek, bapaknya kakeknya kakek, dan seterusnya tidak ada habisnya. Maka dari itu tahlilan itu hakikatnya lebih mendalam dan tidak terbatas pada hubungan darah semata kepada orang tua seperti yang banyak dipahami banyak orang. Coba di logika, “sang anak mendoakan orang tuanya”. kalau seandainya bapaknya kakek sudah meninggal terlebih dahulu sebelum si cucu lahir, otomatis si cucu ini kan hanya akan mendoakan orang tuanya saja bila si anak hanya memahami bahwa kewajibannya adalah mendoakan orang tuanya saja. Maka dari itu pula, dalam konsep tahlilah juga mengajarkan kita untuk mengenal orang terdahulu kita, saudara kita yang lain yang telah mendahului kita, dan hakikatnya smapai kita menjadi kakek-kakek tetap saja kita nantinya adalah seorang anak yang berkewajiban mendoakan orang tuanya. Bukan konsep ketika sudah menjadi kakek makanya harus berdoa untuk diri sendiri saja.

Sebagai seorang anak maka kita diwajibkan untuk selalu mendoakan orang tuanya. Dalam konsep Jawa masyarakat sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan kerukunan. Begitu pula konsep mengenai tahlilan. Seseorang tidak hanya puas dengan hanya mendoakan leluhurnya secara sendirian saja. Hal ini dikarenakan bahwa doa diserukan bersama-sama dan berjamaah akan lebih bermanfaat untuk leluhur mereka, dari pada hanya didoakan secara sendiri saja. Maka dari itu, dalam konsep mengenai tahlilan ini menjadikan seseorang untuk sadar, bahwa belum tentu doanya itu akan terkabur begitu saja, namun apa bila dilakukan secara berjamaah terkabulnya sebuah doa dapat terjadi pada siapa saja dalam jamaah itu dan hanya Allah sajalah yang tau. Jadi, itu juga hakikatnya adalah mengenai peluang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

cara melihat kata kunci populer di google

Anda dapat melihat kata kunci populer di Google dengan menggunakan Google Trends. Berikut ini adalah cara melihat kata kunci populer di Goog...