Minggu, 20 Desember 2015

WAWASAN SENI BUDAYA NUSANTARA

A.   Pengeritan Kebudayaan dan Seni
1.    Pengertian Kebudayaan
Pengertian kebudayaan sangat bervariasi, dan setiap batasan arti yang diberikan tergantung pada sudut pandang masing-masing orang berdasarkan pola pemikirannya. Sejumlah kalangan menganggap kebudayaan sebagai perilaku sosial. Sementara bagi kalangan lainnya, kebudayaan sama sekali bukanlah perilaku, melainkan abstraksi perilaku (Nooryan Bahari, 2014:27). Berbagai definisi mengenai kebudayaan telah banyak dikemukakan oleh beberapa tokoh seperti A. L. Kroeber dan C. Kluckhohn (1952) yang menjelaskan kebudayaan adalah keseluruhan pola tingkah laku dan pola bertingkah laku, baik secara eksplisit maupun implisit, yang diperoleh dan diturunkan melalui simbol, yang akhirnya mampu membentuk sesuatu yang khas dari kelompok manusia, termasuk perwujudannya dalam benda materi. Berdasarkan berbagai pernyataan tersebut menunjukkan bahwa yang menjadi inti kebudayaan adalah manusia. Sedangkan menurut Margaret Mead mendefinisikan kebudayaan sebagai perilaku pembelajaran sebuah masyarakat atau sub-kelompok. Dengan kata lain kebudayaan adalah khas insani. Hanya manusia yang dapat berbudaya dan membudaya (Tilaar, 1999:37).
Edwar B. Tylor (1871) memberikan definisi E. B. Tylor (1958:1) menyatakan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, moral, adat dan berbagai kemampuan serta kebiasaan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dalam definisi tersebut sekiranya perlu untuk dibahas secara terperinci mengenai makna dari kebudayaan itu sendiri.
1.     Kebudayaan merupakan seuatu keseluruhan yang kompleks. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan adalah suatu satu kesatuan dan bukan merupakan  jumlah dari bagian-bagian tertentu yang dijadikan satu. Keseluruhannya mempunyai pola-pola atau desain tertentu yang unik dan berbeda. Selain itu, setiap kebudayaan mempunyai motif yang spesifik yang khas.
2.     Kebudayaan merupakan suatu prestasi kreasi manusia yang berupa bentuk-bentuk prestasi psikologis. Dalam hal ini adalah seperti ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni, dan sebagainya. Kebudayaan adalah hasil karya manusia yang sangat tinggi, di mana secara keseluruhan diciptakan, dikembangkan, dan dilaksanakan oleh masyarakat itu sendiri.
3.     Kebudayaan dapat pula berbentuk fisik seperti seni, terbentuknya kelompok-kelompok keluarga. Seni memiliki berbagai jenis dan ragam. Seni tari contohnya, dalam beberapa kondisi tari-tarian dibuat sebagai tanda syukur atas berbagai limpahan rejeki yang diberikan dari sang Pencipta. Selain itu, tarian juga ada yang menggambarkan drama perjalanan kehidupan manusia dari lahir hingga mati, dan lain sebagainya. Maka dari itu, kebudayaan dapat pula berbentuk fisik yang dapat dilihat dan dinikmati secara visual.
4.     Kebudayaan dapat pula berbentuk kelakuan-kelakuan yang terarah seperti hukum, adat istiadat yang berkesinambungan. Sebuah kebudayaan di Indonesia kebanyakan mengarahkan masyarakat untuk hidup secara harmonis, baik dengan sesama maupun dengan alam. Kebudayaan dalam konteks hukum mengatur berbagai hal yang ada dalam suatu sekelompok orang atau masyarakat. Hukum yang dimaksud adalah hasil kesepakatan bersama yang dilaksanakan bersama untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian, kebudayaan juga menuntun manusia pada sebuah perilaku dan sikap untuk mendapatkan hasil atau tujuan yang diharapkan.
5.     Kebudayaan merupakan realitas objektif, yang dapat dilihat. Hal ini maksudnya adalah bahwa kebudayaan menjadi sebuah wujud dari situasi dan kondisi dari sesuatu yang dapat dilihat dan dirasakan secara nyata.
6.     Kebudayaan diperoleh dari lingkungan. Dalam hal ini yang dimaksud adalah masyarakat. Kebudayaan merupakan bentuk kebiasaan yang terjadi dari suatu masyarakat itu sendiri. Lingkungan sangat berpengaruh terhadap perilaku dan tingkah laku yang menjadi kebiasaan suatu masyarakat.
7.     Kebudayaan tidak terwujud dalam kdehidupan manusia soliter atau terasing tetapi hidup di dlam suatu masyarakat tertentu. Seperti pembahasan sebelumnya yang menyatakan kebudayaan adalah suatu kebiasaan masyarakat. Kebudayaan terwujud karena adanya suatu dominasi atau banyak dilakukan dan dalam kurun waktu tertentu sehingga dapat disebut sebagai budaya. Tidak dapat kebudayaan merupakan suatu kebiasaan yang belum pernah dilakukan pada suatu masyarakat atau sesuatu yang bersifat asing.
Faktor manusia merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kebudayaan. Hal ini berarti menunjukkan betapa pentingnya masyarakat manusia di dalam perkembangan manusia itu sendiri. Selain itu, kebiasaan turut juga mengambil bagian yang sangat dominan untuk terbentuknya sebuah budaya, kebiasaan yang dimaksud adalah uang sikapnya kreatif dan reaktif. Namun demikian, Edward B. Tylor juga menegaskan bahwa hakikat kebudayaan ada tiga hal yang penting, yaitu adanya keteraturan dalam hidup bermasyarakat, adanya proses pemanusiaan, dan di dalam proses pemanusiaan itu terdapat visi tentang kehidupan (Tilaar, 1999:41).
Keteraturan dalam hidup bermasyarakat bukan berarti bahwa kehidupan individu hanyalah sekedar skrup di dalam kehidupan masyarakat. Di sini terjadi sebuah peranan negara yang sangat dominan. Sedangkan yang menjadi permasalhan ialah adanya kebebasan individu yang bertanggung jawab dalam mengikuti keteraturan dalam hidup masyarakat. Hal ini menunjukkan kesadaran hukum dan tunduk kepada hukum yang berlaku merupakan syarat yang diperlukan dalam suatu kehidupan yang berketeraturan. Itulah esensi dari keteraturan dalam hidup bermasyarakat.
Kebudayaan merupakan suatu proses pemanusiaan artinya di dalam kehidupan berbudaya terjadi perubahan, pekembangan, dan motivasi. Dalam proses pemanusiaan ini yang penting bukan hanya prosedur dan teknologi tetapi suatu hal yang tidak kalah penting adalah mengenai isi dan materi dari perubahan dan pekembangan (Tilaar, 1999:48).
Setiap proses pemanusiaan selalu didasarkan pada suatu visi mengenai tujuan proses tertentu. proses pemanusiaan diarahkan kepada apa yang pantas diinginakan. Apa yang pantas dilakukan. Sikap tersebut akan berlawanan dengan sikap fanatisme dan dogmatisme yang tidak mengakui adanya perbedaan pendapat dan usaha untuk mencari kesepakatan.
Kebudayaan hakikatnya memberikan petunjuk atau menjadi pengarah dari proses humanisasi atau pemanusiaan. Kebudayaan memebri arah bagi perkembangan pribadi dalam bentuk struktur, dinamika yang ada dan arah dari kebudayaan tersebut di dalam lingkungan sesama manusia. Kebudayaan merupakan sesuatu yang kompleks dari nilai-nilai sebagai keseluruhan. Mengabaikan beberapa nilai kebudayaan pada gilirannya akan menghasilkan suatu proses pemanusiaan yang kurang lengkap.
Penjelasan di atas merupakan penggambaran kebudayaan menurut Edward B. Tylor. Sekiranya diperlukan pembahan pula mengenai tokoh dari Indonesia mengenai kebudayaan, yaitu Ki Hajar Dewantara (1967). Konsepnya mengenai kebudayaan yang sangat terkenal adalah teori Trikon. Menurutnya kebudayaan berarti buah budi manusia yang memerlukan hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh yang kuat, yaitu alam dan zaman (kodrat dan masyarakat). Dalam perjuangan tersebut terbukti kejayaan manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai. Rumusan tersebut mengandung beberapa hal penting, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.    Kebudayaan selalu bersifat kebangsaan (nasional) dan mewujudkan sifat atau watak kepribadian bangsa. Inilah sifat kemerdekaan kebangsaan dalam arti kultural.
2.    Tiap-tiap kebudayaan menunjukkan keindahan dan tingginya adat kemanusiaan pada hidup masing-masing bangsa yang memilikinya. Keluhuran dan kehalusan hidup manusia tersebut selalu dipakainya sebagai ukuran.
3.    Tiap-tiap kebudayaan sebagai buah kemenangan manusia terhadap kekuatan alam dan zaman selalu memudahkan dan melancarkan hidupnya sera memberi alat-alat baru untuk meneruskan kemajuan hidup dan memudahkan serta memajukan dan mempertinggi taraf kehidupan.
Hakikatnya kebudayaan selalu berkembangan dan tidak berhenti pada suatu kejenuhan. Dalam perkembangan tersebut terdapat adanya usaha-usaha yang dilakukan oleh masyarakat secara aktif dan kreatif. Sejalan dengan hal tersebut Ki Hajar Dewantara (1967) mengemukakan usaha manusia dalam mengembangkan kebudayaannya yang dikenal dengan teori Trikon, berikut adalah penjelasannya:
1.    Pemeliharaan kebudyaaan haruslah termaksud memajukan dan menyesuaikan kebudayaan dengan pergantian alam dan zaman.
2.    Oleh karena isolasi, kebudayaan akan mengalamu kemunduran dan matinya hubungan kebudayaan dengan kodrat dan masyarakat.
3.    Pembaharuan kebudayaan mengharuskan adanya hubungan dengan kebudayaan lain yang dapat mengembangkan atau memperkaya kebudayaan sendiri.
4.    Kemajuan kebudyaan harus berupa lanjutan kesatuan kebudyaan sendiri (kontinuitas), menuju ke arah kesatuan kebudayaan dunia (konvergensi) dan tetap terus mempunyai sifat kepribadian di dalam lingkungan kebudayaan dunia.
Selain teori Trikon di atas, Ki Hajar Dewantara juga mengungkapkan pembinaan kebudayaan nasional Indonesia. Pembinaan yang dimaksudkan adalah mengenai pembangunan kebudayaan di Indonesia, berikut ini adalah penjabarannya:
1.    Adanya kesatuan alam dan zaman, kesatuan sejarah dahulu dan sekarang, maka kesatuan kebudyaan Indonesia hanyalah merupakan soal waktu dalam perwujudannya.
2.    Sebagai bahan untuk membangun kebudyaan kebangsaan Indonesia diperlukan sari-sari dan puncak-puncak kebudayaan yang terdapat di seluruh daerah Indonesia untuk dijadikan modal isinya.
3.    Dari luar lingkungan kebangsaan perlu diambul bahan-bahan yang dapat mengembangkan dan memperkaya kebudayaannya sendiri.
4.    Di dalam memasukkan bahan-bahan, baik kebudayaan daerah kebudayaan asing perlu selalu diingat syarat-syarat Trikon dari perkembangan kebudayaan.
5.    Dalam rangka kemerdekaan bangsa tidak cukup hanya berupa kemerdekaan politik, tetapi juga kesanggupan dan kemampuan mewujudkan kemerdekaan kebudayaan bangsa, yaitu kekhususan dan kepribadian dalam segala sifat hidup dan penghidupannya di atas dasar adab kemanusiaan yang luas, luhur, dan dalam.
Konsep mengenai pemikiran Ki Hajar Dewantaran perihal kebudayaan Indonesia terkandung dalam rumusan penjelasan Pasal 32 UUD 1945 mengenai Kebudayaan. Dalam penjelasannya pasal 32 tersebut berbunyi: “kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhidtung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan, dengan tidak menilah bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.”
Selain rumusan kebudayaan menurut Ki Hajar Dewantara. Tokoh Koentjoroningrat juga memiliki konsep kenbudayaan yang perlu untuk dikaji. Menurut Koentjoroningrat (1986), kebudayaan dibagi ke dalam tiga sistem, pertama sistem budaya yang lazim disebut adat-istiadat, kedua sistem sosial di mana merupakan suatu rangkaian tindakan yang berpola dari manusia. Ketiga, sistem teknologi sebagai modal peralatan manusia untuk menyambung keterbatasan jasmaniahnya. Berdasarkan konteks budaya, ragam kesenian terjadi disebabkan adanya sejarah dari zaman ke zaman. Jenis-jenis kesenian tertentu mempunyai kelompok pendukung yang memiliki fungsi berbeda. Adanya perubahan fungsi dapat menimbulkan perubahan yang hasil-hasil seninya disebabkan oleh dinamika masyarakat, kreativitas, dan pola tingkah laku dalam konteks kemasyarakatan.
Koentjoroningrat mengatakan, Kebudayaan Nasional Indonesia adalah hasil karya putera Indonesia dari suku bangsa manapun asalnya, yang penting khas dan bermutu sehingga sebagian besar orang Indonesia bisa mengidentifikasikan diri dan merasa bangga dengan karyanya. Kebudayaan Indonesia adalah satu kondisi majemuk karena ia bermodalkan berbagai kebudayaan, yang berkembang menurut tuntutan sejarahnya sendiri-sendiri. Pengalaman serta kemampuan daerah itu memberikan jawaban terhadap masing-masing tantangan yang memberi bentuk kesenian, yang merupakan bagian dari kebudayaan.

2.    Pengertian Seni
Perkembangan konteks seni semakin berkembang dan berubah seiring berjalannya zaman. Istilah seni dalam perngertian sekarang berbeda dengan istilah seni di masa sebelum perang dunia III. Menurut Merriam Webster’s Collegiate Dictionary dapat disimpulkan bahwa seni merupakana suatu keterampilan yang diperoleh dari pengalaman, belajar, atau pengamatan-pengamatan. Perngertian lainnya adalah seni merupakan bagian dari pelajaran, salah satu ilmu sastra, dan pengertian jamaknya adalah pengetahuan budaya, pelajaran, ilmu pengetahuan serta suatu pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan atau keterampilan. Seni juga berguna bagi keterampilan dan imajinasi kreatif, terutama dalam bidang produksi benda yang indah seperti produk karya seni. Seni juga merupakan suatu perencanaan yang mahir, dan menyatakan kualitasnya dengan baik, serta merupakan unsur-unsur yang ilustratif atau menghias dalam barang cetak.
Bangsa Yunani tidak mengenal kata seni dan seniman. Seni dalam pengertian mereka disebut teknik, dan seniman mereka sebut artisan, tukang atau pengrajin. Semua batasan di atas mengandung pengertian skill atau keterampilan yang dimanfaatkan guna mencapai tujuan tertentu, baik yang estetis, etnis, maupun praktis. Secara objektif, keindahan dianggap semacam kesenangan atau sesuatu yang sempurna. Anggapan tersebut sebenarnya hanya pemikiran subjektif, dengan pernyataan yang berbeda dapat dikemukakan bahwa keindahan itu seperti resepsi atau kesenangan; dan sering disebut dengan istilah “keindahan” yang menyenangkan.
Konsep seni terus berkembang sejalan dengan berkembangnya kebudayaan dan kehidupan masyarakat yang dinamis. Aristoteles mengemukakan bahwa, seni adalah kemampuan membuat sesuatu dalam hubungannya dengan upaya mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan oleh gagasan tertentu, demikian juga dikemukakan oleh sastrawan Rusia terkemuka Leo Tolstoy mengatakan bahwa, seni merupakan kegiatan sadar manusia dengan perantaraan (medium) tertentu untuk menyampaikan perasaan kepada orang lain. Menurut Ki Hajar Dewantara seni adalah indah, menurutnya seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dan hidup perasaannya dan bersifat indah hingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia lainnya, selanjutnya dikatakan oleh Akhdiat K. Mihardja; seni adalah kegiatan manusia yang merefleksikan kenyataan dalam sesuatu karya, yang berkat bentuk dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam rohani si penerimanya. Ungkapan seni menurut Erich Kahler; seni adalah suatu kegiatan manusia yang menjelajahi, menciptakan realitas itu dengan simbol atau kiasan tentang keutuhan “dunia kecil” yang mencerminkan “dunia besar”.
Karya seni merupakan sebuah media komunikasi antara pencipta karya dan penikmat seni. Pembicaraan mengenai seni dapat dilakukan secara filosofi, psikologi, dan sosiologi. Pertama, secara filosofi berbicara mengenai seni bertujuan mengetahui perangai dasr, tolok ukur, dan nilai seni. Menurut Leo Tolstoy (1826-1910), novelis dan filsuf kelahiran Rusia, menganggap seni sebagai transmission of feeling (penyaluran perasaan) dengan maksud bahwa seni ialah membangun perasaan yang dialami, lalu dengan perasaan garis, warna, bunyi atau bentuk, mengungkapkan apa yang dirasakan sehingga orang lain tergugah perasaannya secara sama. Teori ini juga dianut oleh filsuf Italia Benedetto Croce (1866-1952), yang beranggapan bahwa seni adalah pengungkapan kesan-kesan. Berdasarkan uraian tersebut, secara filosifis seni berkaitan erat dengan perasaan untuk merasakan keindahan sehingga timbul kesan-kesan dari dalam diri seseorang.
Kedua, secara psikologi bermaksud membicarakan aktifitas menghayati, mencipta, dan menelaah seni. Dalam sudut pandang ini seni lahir sebagai sarana pemenuhan keinginan-kenginan bawah sadar. Karya seni adalah perwujudan terselubung dari keinginan itu. Menurut Friedrich Schiller (1759-1805) menyatakan bahwa kehadiran seni dilatarbelakangi adanya dorongan bermain-bain yang ada pada diri seniman. Sementara teori kontekstual melihat seni berkaitan dengan keadaan, peristiwa dan fakta-fakta yang ada pada masyarakat dan lingkungannya. Sependapat dengan teori ini, John Dewey (1859-1952) berpendapat bahwa seni dan kehidupan berada dalam hubungan yang berkelanjutan. Teori dalam kaca mata psikologi ini lebih mengarahkan pada seni untuk mengkap kecenderungan-kecenderungan alam bawah sadar, dan dorongan atau hasrat untuk bermain-main. Sedangkan teori kontekstual selalu betautan dengan lingkungan dalam masyarakat.
Ketiga, secara sosiologi pembicaraan seni lebih menyoroti masalah yang berkaitan dengan publik, peran sosial seni, dan lingkungan sekitar. Menurut The Liang Gie (1976) menyatakan seni adalah suatu kegiatan manusia dalam menjelajahi dan menciptakan realita bari berdasarkan penglihatan yang irasional, sembari menyajikan realita itu secara simbolis atau kiasan seperti kebulatan dunia kecil yang mencerminkan sebuah kebutalan dunia yang besar. Dalam arti yang terbatas, seni disepadankan dengan seni penglihatab, dimana mata memegang peranan yang cukup signifikan dalam kegiatan observasi, kreasi, dan apresiasi serta evaluasi. Secara sosial dan kemanusiaan, seni memiliki tiga tahap perjalanan jiwa dalam mencari roh mutlak, yaitu seni, kemudian agama, dan selanjutnya filsafat. Hegel (dalam Wadjiz, 1985:36) menyatakan apabila seni mencapai tujuan terakhirnya, maka ia akan ikut serta bersama-sama agama dan filsfat dalam menafsirkan dan menjelaskan unsur ketuhanan dan sebagian besar hajat kemanusiaan yang sangat mendalam dan luas. Akan tetapi ia akan mencapai kesempurnaan di dalam ilmu pengetahuan.
a.    Ciri-ciri Sifat Dasar Seni
Berdasarkan hasil telaah terhadap teori-teori seni, disimpulkan bahwa seni memiliki sekurang-kurangnya 5 ciri yang merupakan sifat dasar seni (Gie, 1976:41-46). Uraian mengenai sifat dasar seni adalah sebagai berikut:
1)     Ciri pertama adalah sifat kreatif dari seni. Seni merupakan suatu
rangkaian kegiatan manusia yang selalu mencipta karya baru. Kreatif merupakan sebuah kemampuan dalam diri manusia yang selalu mengarah pada konteks kebaruan, baik yang bersifat sama sekali baru maupun pengembangan dari yang telah ada. Seni selalu berubah dan selalu kreatif apabila dilihat dengan berbagai sudut pandang.
2)     Ciri kedua adalah sifat individualitas dari seni. Karya seni yang diciptakan oleh seorang seniman merupakan karya yang berciri personal,  subyektif dan individual. Sebagai contoh, (1) Lagu ciptaan Iwan Fals terdengar berbeda dari lagu ciptaan Ebiet G. Ade; (2) Lukisan Afandi yang menemukan ciri khasnya sendiri dalam cara melukisnya. Seni menunjukkan adanya sebuah perasaan yang berbeda antara satu orang dengan lainnnya. Selain itu, seni juga menunjukkan adanya pengetahuan dan keterampilan untuk memahami seni secara menyeluruh. Dengan demikian seni bersifat sangat individulaitas karena selalu berkaitan dengan pencipta dan penikmatnya.
3)     Ciri ketiga adalah seni memiliki nilai ekspresi atau perasaan. Dalam mengapresiasi dan menilai suatu karya seni harus memakai kriteria atau ukuran perasaan estetis. Seniman mengekspresikan perasaan estetisnya ke dalam karya seninya lalu penikmat seni (apresiator) menghayati, memahami dan mengapresiasi karya tersebut dengan perasaannya. Sebagai contoh, (1) lagu “Imagine” karya John Lennon merupakan ungkapan kepeduliannya terhadap nilai-nilai humanisme dan perdamaian sehingga menggugah perasaan siapapun yang mendengar.
4)     Ciri keempat adalah keabadian sebab seni dapat hidup sepanjang  masa. Konsep karya seni yang dihasilkan oleh seorang seniman dan diapresiasi oleh masyarakat tidak dapat ditarik kembali atau terhapuskan oleh waktu. Sebagai contoh, (1) lagu Indonesia Raya karangan WR. Supratman sampai saat ini masih tetap abadi dan diapresiasi masyarakat walaupun beliau telah wafat; (2) Karya-karya lukis S. Sudjojono dan Affandi sampai saat ini masih diapresiasi oleh masyarakat dan sangat diminati oleh para kolektor lukisan walaupun beliau telah wafat.
5)     Ciri kelima adalah semesta atau universal sebab seni berkembang di seluruh dunia dan di sepanjang waktu. Seni tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Sejak jaman pra sejarah hingga jaman modern ini orang terus membuat karya seni dengan beragam fungsi dan wujudnya sesuai dengan perkembangan masyarakatnya. Sebagai contoh, (1) desain mode pakaian terus berkembang sesuai trend-mode yang selalu berubnah dari waktu ke waktu dan banyak mempengaruhi gaya hidup masyarakat metropolitan; (2) Di banyak negara di dunia seperti Belanda, Inggris, Jepang, Cina, Indonesia dan sebagainya dijumpai produk keramik dalam berbagai bentuk dan fungsinya.

b.    Struktur Seni
The Liang Gie (1976-70) menjelaskan bahwa dalam semua jenis kesenian terdapat unsur-unsur yang membangun karya seni sebagai berikut:
1)    Struktur seni merupakan tata hubungan sejumlah unsur-unsur seni yang membentuk suatu kesatuan karya seni yang utuh. Contoh struktur seni dalam bidang seni rupa adalah garis, warna, bentuk, bidang dan tekstur. Bidang seni musik adalah irama dan melodi. Bidang seni tari adalah wirama, wirasa dan wiraga. Bidang seni teater adalah gerak, suara dan lakon.
2)    Tema merupakan ide pokok yang dipersoalkan dalam karya seni. Ide pokok suatu karya seni dapat dipahami atau dikenal melalui pemilihan subject matter (pokok soal) dan judul karya. Pokok soal dapat berhubungan dengan niat estetis atau nilai kehidupan, yakni berupa: objek alam, alam kebendaan, suasana atau peristiwa yang metafora atau alegori. Namun tidak semua karya memiliki tema melainkan kritik.
3)    Medium adalah sarana yang digunakan dalam mewujudkan gagasan menjadi suatu karya seni melalui pemanfaatan material atau bahan dan alat serta penguasaan teknik berkarya. Tana medium tak ada karya seni. Pada seni rupa mediumnya adalah objek estetik dua dimensi (lukisan catair, etsa, cukil, ayu, dan lain-lain), objek estetik tita dimensi (patu batu, relief logam, ukiran kayu). Semua jenis seni mempergunakan medium, seni musik mempergunakan medium bunyi (nada), kalau seni tari mempergunakan medium gerak, seni teater mempergunakan semua itu oleh sebab itu teater dikatakan seni yang mempergunakan multimedia, seni sastra mempergunakan kata-kata sebagai medium, seni lukis mempergunakan garis, bidang dan warna, kalau seni sastra menggunakan kata sebagai medium. Kalau seni dapat dianggap sebagai bahasa maka setiap cabang seni memiliki bahasa tersendiri, sastra memiliki bahasa verbal, seni rupa memiliki bahasa plastis, seni tari memiliki bahasa kinetis, seni musik bahasa audio, seni lukis memiliki bahasa visual, begitu pula seni memiliki dimensi, seni musik mempunyai dimensi waktu, seni tari memiliki dimensi gerak, dan seni rupa memiliki dimensi ruang.
4)    Gaya atau style dalam karya seni merupakan ciri ekspresi personal yang khas dari si seniman dalam menyajikan karyanya. Menurut Soedarso SP (1987:79), gaya adalah ciri bentuk luar yang melekat pada wujud karya seni, sedangkan aliran berkaitan dengan isi karya seni yang merefleksikan pandangan atau prinsip si seniman dalam menanggapi sesuatu.

c.    Fungsi Seni
Fungsi-fungsi seni terdiri atas fungsi ritual, pendidikan, komunikasi, hiburan, artistik dan fungsi guna. Sumber : Endo Suanda Gambar 1.20. Macam-macam Fungsi Seni Bagaimana kita dapat mengidentifikasikan sebuah karya  seni khususnya kesenian tradisi berdasarkan fungsi-fungsinya. Berikut diuraikan
tentang fungsi-fungsi seni.
1)     Fungsi Ritual, seni dalam konteks ritual sangat berhubungan dengan kepercayaan masyarakat. Dalam kebudyaaan seni ini sangat kuat dan bahkan memiliki pemaknaan yang sangat mendalam. Seni merupakan salah satu wujud kebudayaan yang dapat digunakan untuk berhubungan dengan Tuhan. Sebagai contohnya adalah suatu pertunjukan yang digunakan untuk sebuah upacara yang berhubungan dengan upacara kelahiran, kematian, ataupun pernikahan. Misalnya: Gamelan yang dimainkan pada upacara Ngaben di Bali yakni gamelan Luwang, Angklung, dan Gambang. Gamelan di Jawa Gamelan Kodhok Ngorek, Monggang, dan Ageng.
2)     Fungsi Pendidikan, seni juga memiliki peran untuk pendidikan. Di Indonesia berbagai kesenian dipelajari secara utuh dalam bentuk mata pelajaran. Namun demikian, seni dapat pula berperan sebagai media untuk belajar. Seni budaya banyak mengajarkan pada nilai-nilai yang sangat tinggi untuk dihayati dan dipelajari. Dalam kekninian sistem pendidikan nasional harus menemukan kembali pendidikan nasional Indonesia yang tumbuh dna berkembang di dalam seni budaya Indonesia dan bukan tumbuh dan berkembang di atas konsep kebudayaan yang asing dari masyarakat Indonesia (Tilaar, 1999:45). Seni sebagai media pendidikan misalnya musik. Contoh: Ansambel karena di dalamnya terdapat kerjasama, Angklung
dan Gamelan juga bernilai pendidikan dikarenakan kesenian tersebut mempunyai nilai sosial, kerjasama, dan disiplin.
3)     Fungsi Komunikasi, seni dalam hal ini memegang peranan yang sangat penting. Seni merupakan perantara antara sang seniman dengan penikmatnya. Dalam karya seni yang dibuat seniman terkandung pesan-pesan yang ingin disampaikan kepada penikmatnya, sehingga dengan demikian terdapat adanya komunikasi dari seniman kepada penikmatnya. Suatu pertunjukan seni misalnya dapat digunakan sebagai komunikasi atau kritik sosial melalui media seni tertentu seperti, wayang kulit, wayang orang dan seni teater, dapat pula syair sebuah lagu yang mempunyai pesan.
4)     Fungsi Hiburan, seni memiliki sifat menyenangkan yang khususnya dikarenakan keindahannya. Seni sebagai hiburan memiliki peran yang sangat banyak, khususnya pada pemenuhan kebutuhan akan keindahan. Seni yang berfungsi sebagai hiburan adalah sebuah pertunjukan khusus untuk berekspresi atau mengandung hiburan, kesenian yang tanpa dikaitkan dengan sebuah upacara ataupun dengan kesenian lain.
5)     Fungsi Artistik, seni dalam hal ini sangat bertalian dengan perasaan untuk mengungkapkan ekspresi. Artistik mengandung pemaknaan akan keindahan. Seni yang berfungsi sebagai media ekspresi seniman dalam menyajikan karyanya tidak untuk hal yang komersial, misalnya terdapat pada musik kontemporer, tari kontemporer, dan seni rupa kontemporer, tidak bisa dinikmati pendengar atau pengunjung pada umumnya, hanya bisa dinikmati para seniman dan komunitasnya.
6)     Fungsi Guna (seni terapan), seni ini memiliki makna bahwa seni dapat pula dijadikan sarana untuk memenuhi kebutuhan manusia, khususnya dalam hal yang memudahkan manusia untuk beraktifitas. Karya seni yang dibuat tanpa memperhitungkan kegunaannya kecuali sebagai media ekspresi disebut sebagai karya seni murni, sebaliknya jika dalam proses penciptaan seniman harus mempertimbangkan aspek kegunaan, hasil karya seni ini disebut seni guna atau seni terapan. Contoh: kriya, karya seni yang dapat dipergunakan untuk perlengkapan atau peralatan rumah tangga adalah kriya keramik, kriya tekstil sebagai untuk pakaian, kriya kulit untuk bahan pembuatan tas dan sepatu, kriya kayu untuk pemenuhan perabot rumah tangga, dan lain sebagainya.
7)     Fungsi Seni untuk Kesehatan (Terapi), seni juga pada dasarnya dapat digunakan untuk pengobatan. Seni dapat membangkitkan perasaan yang berbeda sebagai sarana kesehatan. Sebagai contoh pengobatan untuk penderita gangguan physic ataupun medis dapat distimulasi melalui terapi musik, jenis musik disesuaikan dengan latar belakang kehidupan pasien. Terapi musik telah terbukti mampu digunakan untuk menyembuhkan penyandang autisme, gangguan psikologis trauma pada suatu kejadian, dan lain-lain. Seperti yang telah dikatakan Siegel (1999) menyatakan bahwa musik klasik menghasilkan gelombang alfa yang menenangkan yang dapat merangsang sistem limbic jarikan neuron otak. Selanjutnya dikatakan oleh Gregorian bahwa gamelan dapat mempertajam pikiran. Maka dari itu, seni memiliki peranan yang sangat penting untuk kesehatan manusia khususnya untuk membangitkan suatu yang berhubungan dengan alam bawah sadar.

B.   Wujud Kesenian
1.    Seni Rupa
Seni rupa adalah suatu wujud hasil karya manusia yang diterima dengan indra penglihatan, dan secara garis besar dibagi menjai seni murni dan seni terapan. Pertama, seni murni merupakan istilah untuk menandai bahwa karya yang dihasilkan tidak dimaksudakan untuk memenuhi tujuan praktis atau fungsional, tetapi murni sebagai media ekspresi, seperti seni lukis, seni patung, dan seni grafis dengan berbagai teknik beserta aliran-alirannya, seperti realisme, naturalisme, abstrak, surealisme, dan lain-lain. Dalam perkembangan selanjutnya sebagai media ekspresi, seni murni juga mewadahi seni lingkungan, seni instalasi, seni pertunjukan media rupa, seni peristiwa, dan lain sebagainya. sebagai media ekspresi seni murni dapat menumbuhkan rasa senang, rasa haru, dan empati yang ditimbulkan karena adanya keterpaduan dari unsur-unsur bentuk yang menunjang wujud utuh dari karya tersebut, seperti komposisi warna, unsur garis yang digunakan, berbagai bentuk bidang, kemiripan bentuk dengan acuannya atau justru menghadirkan bentuk baru yang tidak ada acuannya di alam, dan lain sebagainya. sedangkan pengertian sederhana keindahan dalam konteks seni murni adalah sesuatu yang memberikan rasa senang tanpa pamrih pada orang yang melihatnya. Kesenangan yang ditimbulkan muncul karena keindahan dari karya itu sendiri.
Kedua, seni terapan sering juga disebut dengan istilah desain yang berasal dari bahasa Itali designo yang artinya gambar. Pada abad ke-17 kata desain diberi makna baru dalam bahasa Inggris yang semakna dengan kata craft. Dalam dunia seni rupa di Indonesia, kata desain sering disepadankan dengan kata reka bentuk, reka rupa, tata ruang, perupaan, anggitan, rancangan, dan lain-lain. Dalam perkembangannya di Indonesia, kegiatan desain dibagi menjadi desain interior, desain arsitektur, desain tekstil, desain grafis, dan desain produk industri.
Istilah seni kriya mempunyai makna berbeda dengan seni murni dan desain. Kriya merupakan kata khas dan asli Indonesia yang bermakna keahlian, kepiawaian, kerajinan, dan ketekunan. Pembagian jenis seni kriya biasanya berdasarkan bahan dan teknik pembuatannya, yaitu kriya kayu dengan teknik ukir atau pahat; kriya logam dengan teknik wudulan, filligre, dan tuang atau coe; kriya bambu dengan teknik ukir dan anyam; kriya tekstil dengan teknik anyam, ablon, tenun, dan batik; kriya kulit dengan teknik pahat atau anyam; dan lain sebagainya.
Sebelum bangsa Barat (Eropa) datang, bangsa Indonesia sudah mempunyai peradaban yang cukup tinggi. kemahiran dalam mengerjakan bahan-bahan dari kayu, logam, batu, dan tanah liat dapat ditunjukkan buktinya dalam membangun rumah dan tempat tinggal berasitektur kayu, bangunan candi dari batu andesit dan bata, alat-alat rumah tangga dari gerabah, logam, dan kayu. Alat-alat upacara yang berwujud patung daru kayu, batu, besi, perunggu, perak, emas, dan sebagainya. pengetahuan tentang bahan dan teknologi ini kemudian dipadukan dengan pengetahuan yang dibawa oleh orang Eropa (Belanda) menyebabkan akulturasi dalam bidang pengetahuan bahan dan teknologi yang menghasulkan berbagai alat perlengkapan hidup seperti pakaian, arsitektur, alat-alat rumah tangga yang bergaya indis.
Gaya indis tersebut mencakup seluruh aspek kebudayaan, , baik berupa sistem budaya yang terdiri dari gagasan, pikiran, konsp, nilai-nilai, norma, dan padangannya, berbagai aktifitas seperti tingkah laku, upacara-upacara, maupun  berwujud benda atau artefak seperti arsitektur dan peralatan rumah tangga. kelengakapan rumah tangga seperti meja, kursi, almari yang sering disebut mebelair, merupakan barang baru bagi suku Jawa, dan dikenal setelah orang Eropa datang di Nusantara umumnya dan Jawa khususnya. Industri kriya bersifat tradisional, dan produk yang dihasilkan awalnya memenuhi kebutuhan sendiri, alat-alat upaara atau ritual, dan keperluan penguasa atau bangsawan. Dengan perkembangan selanjutnya, industri kriya mengalami perubahan-perubahan yang disebabkan munculnya sistem organisasi dan spesialisasi pekerjaan. Sifat tradisional tersebut sampai saat ini masih terlihat dan dipertahankan, antara lain tampak pada bentuk badan usaha yang masih berbentuk industri rumah tangga dan milik perseorangan, serta dalam proses pembuatan karya dilakukan secara manual atau dengan tangan (handmade).
a.    Cabang Seni Rupa
Karya seni rupa dapat digolongkan berdasarkan fungsi atau kegunaannya, dimensi, medium yang digunakan, gaya penciptaan, dan aspek kesejarahan. Dari sudut pandang fungsi atau kegunaan, karya seni terbagi dalam beberapa kategori, yaitu seni murni, desain, dan kriya. Di bawah ini akan dikemukakan penggolongan seni rupa dilihat dari sudut padang kegunaannya.
1)    Seni Murni
Seni murni adalah seni yang diciptakan khusus untuk mengkomunikasikan nilai-nilai estetis dari karya seni itu sendiri. Seni murni disebut juga sebagai seni ekspresif atau seni estetis, yang fungsi utamanya mengkomunikasikan pengalaman estetis penciptanya kepada penikmat seni agar mereka memperoleh pengalaman yang sama dengan penciptanya, dengan mengabaikan fungsi ekonomi dan kegunaan praktis.
Description: C:\Users\sulistyo\Downloads\Affandi, Ayam tarung, 91cm X 136cm, 1979- Rp.250-350 Jt.JPG
Gambar: Lukisan Afandi, Ayam Bertarung
Sumber: wartakota.tribunnews.com

Seni rupa murni lebih mengkhususkan diri pada proses penciptaan karya seninya dilandasi oleh tujuan untuk memenuhi kebutuhan akan kepuasan batin senimannya. Seni murni diciptakan berdasarkan kreativitas dan ekspresi yang sangat pribadi. Namun dalam hal tertentu, karya seni rupa murni itu dapat pula diperjualbelikan atau memiliki fungsi sebagai benda pajangan dalam sebuah ruang. Seni murni secara garis besar dapat dibagi menjadi seni lukis, seni patung, dan seni grafis.
a)    Seni Lukis
Seni lukis merupakan karya seni rupa dua dimensi yang menampilkan unsur-unsur warna, bidang, garis, bentuk, dan tekstur. Secara umum, seni lukis dikenal melalui teknik perspektif atau perbedaan kecerahan antara satu warna dengan warna lainnya. Wujud
b)    Seni Patung
Seni Patung adalah salah satu jenis seni murni berwujud tiga dimensi. Patung dapat dibuat dari bahan batu alam, atau bahan-bahan industri seperti logam,serat gelas, dan lain-lain.
c)    Seni Grafis
Seni grafis merupakan seni murni dua dimensi dikerjakan dengan teknik cetak baik yang bersifat konvensional maupun melalui penggunaan teknologi canggih. Teknik cetak konvensional antara lain: 1) Cetak Tinggi (Relief Print): wood cut print, wood engraving print, lino cut print, kolase print; 2) Cetak Dalam (Intaglio): dry point, etsa, mizotint, sugartint; (3) sablon (silk screen).

2)    Desain
Di zaman modern segala benda dan bangunan yang dibutuhkan manusia, umumnya merupakan karya desain, baik dengan pendekatan estetis, maupun pendekatan fungsional. Istilah desain mengalami perluasan makna, yaitu sebagai kegiatan manusia yang berupaya untuk memecahkan masalah kebutuhan fisik.
Description: C:\Users\sulistyo\Downloads\pixabay.com.jpg
Gambar: Desain Grafis
Sumber: pixabay.com

Berbeda dengan karya seni murni, desain merupakan suatu aktivitas yang bertitik tolak dari unsur-unsur obyektif dalam mengekspresikan gagasan visualnya. Unsur-unsur obyektif suatu karya desain adalah adanya unsure rekayasa (teknologi), estetika (gaya visual), prinsip sains (fisika), pasar (kebutuhan masyarakat), produksi (industri), bahan (sumber daya alam), budaya (sikap, mentalitas, aturan, gaya hidup), dan lingkungan (sosial). Unsur objektif yang menjadi pilar sebuah karya desain dapat berubah tergantung jenis desain dan pendekatan. Cabang-cabang desain yang kita kenal antara lain ada di bawah ini:
a)    Desain Produk
Desain produk adalah cabang seni rupa yang berupaya untuk memecahkan persoalan kebutuhan masyarakat akan peralatan dan benda sehari-hari untuk menunjang kegiatannya, seperti mebel, alat rumah tangga, alat transportasi, alat tulis, alat makan, alat kedokteran, perhiasan, pakaian, sepatu, pengatur waktu, alat kebersihan, cindera mata, kerajinan, mainan anak, bahkan perkakas pertukangan.
b)   Desain Grafis
Desain grafis adalah bagian dari seni rupa yang berupaya untuk memecahkankebutuhan masyarakat akan komunikasi rupa yang dicetak, seperti poster, brosur, undangan, majalah, surat kabar, logo perusahan, kemasan, buku, dan bhakan juga cerita bergambar (komik), ilustrasi, dan krikatur. Desain grafis kemudian mengalami perkembangan sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Kini cabang seni rupa ini dikenal dengan nama desain komunikasi visual dengan penambahan cakupannya meliputi multimedia dan fotografi.
c)    Desain Arsitektur
Terdapat dua pandangan yang berbeda terhadap dunia arsitektur. Yakni, pandangan yang menempatkan arsitektur sebagai bidang keahlian teknik (keinsinyuran) dan pandangan yang menempatkan arsitektur sebagai bagian dari seni. Secara umum, desain asitektur adalah suatu kegiatan yang berupaya untuk memecahkan akan kebutuhuhan hunian masyarakat yang indah dan nyaman. Seperti rumah tinggal, perkantoran, sarana relaksasi, stadion olah raga, rumah sakit, tempat ibadah, bangunan umum, hingga bangunan industri.
d)   Desain Interior
Desain Interior adalah suatu cabang seni rupa yang berupaya untuk memecahkan kebutuhan akan ruang yang nyaman dan indah dalam sebuah hunian, seperti ruang hotel, rumah tinggal, bank, museum, restoran, kantor,  pusat hiburan, rumah sakit, sekolah, bahkan ruang dapur dan kafe. Banyak yang berpandangan bahwa desain interior merupakan bagian dari arsitektur dan menjadi kesatuan yang utuh dengan desain tata ruang secara keseluruhan. Namun, pandangan ini berubah ketika profesi desain interior berkembang menjadi ilmu untuk merancang ruang dalam dengan pendekatan-pendekatan keprofesionalan.
Dunia desain berkembang sejalan dengan kemajuan kebudayaan manusia. Masyarakat juga mengenal desain multimedia. Cabang desain ini berkembang sejalan dengan tumbuhnya teknologi komputer dan dunia pertelevisian.

3)    Kriya
Perkembangan dalam dunia seni rupa, adalah munculnya kriya sebagai bagian tersendiri yang terpisah dari seni rupa murni. Jika sebelumnya kita mengenal istilah seni kriya sebagai bagian dari seni murni, kita mengenal istilah kriya atau ada pula yang menyebutnya kriya seni. Kriya merupakan pengindonesiaan dari istilah Inggris Craft, yaitu kemahiran membuat produk yang bernilai artistik dengan keterampilan tangan, produk yang dihasilkan umumnya eksklusif dan dibuat tunggal, baik atas pesanan ataupun kegiatan kreatif individual. Ciri karya kriya adalah produk yang memiliki nilai keadiluhungan baik dalam segi estetik maupun guna. Sedangkan karya kriya yang kemudian dibuat misal umumnya dikenal sebagai barang kerajinan.
Description: C:\Users\sulistyo\Downloads\karya-seni-kriya.jpg
Gambar: Kriya Keramik
Sumber: www.indonesiakaya.com


b.    Elemen Seni Rupa
1)    Titik
Titik merupakan unsur dasar seni rupa yang terkecil. Semua wujud dihasilkan mulai dari titik. Titik dapat pula menjadi pusat perhatian, bila berkumpul atau berwarna beda.
2)    Garis
Garis adalah goresan atau batas limit dari suatu benda, ruang, bidang, warna, tekstur, dan lainnya. Garis mempunyai dimensi memanjang dan mempunyai arah tertentu, garis mempunyai berbagai sifat, seperti pendek, panjang, lurus, tipis, vertikal, horizontal, melengkung, berombak, halus, tebal, miring, patah-patah, dan masih banyak lagi sifat-sifat yang lain. Kesan lain dari garis ialah dapat memberikan kesan gerak, ide, simbol, dan kode-kode tertentu, dan lain sebagainya. Pemanfaatan garis dalam desain diterapkan guna mencapai kesan tertentu, seperti untuk menciptakan kesan kekar, kuat simpel, megah ataupun juga agung. Beberapa contoh simbol ekspresi garis serta kesan yang ditimbulkannya, dan tentu saja dalam penerapannya nanti disesuaikan dengan warna-warnanya.
3)    Bidang
Bidang dalam seni rupa merupakan salah satu unsur seni rupa yang terbentuk dari hubungan beberapa garis. Bidang dibatasi kontur dan merupakan 2 dimensi, menyatakan permukaan, dan memiliki ukuran Bidang dasar dalam seni rupa antara lain, bidang segitiga, segiempat, trapesium, lingkaran, oval, dan segi banyak lainnya.
4)    Ruang
Ruang dalam arti yang luas adalah seluruh keluasan, termasuk di dalamnya hawa udara. Dalam pengertian yang sempit ruang dibedakan menjadi dua, yaitu ruang negatif dan ruang positif. Ruang negatif adalah ruang yang mengelilingi wujud bentuk, sedang ruang positif adalah ruang yang diisi atau ditempati wujud bentuk.
5)    Warna
Warna merupakan unsur penting dan paling dominan dalam sebuah penciptaan karya desain. Melalui warna orang dapat menggambarkan suatu benda mencapai kesesuaian dengan kenyataan yang sebenarnya. Warna dapat dikelompokkan berdasarkan jenis warna, sifat warna, dan makna warna.
6)    Tekstur
Tekstur adalah nilai raba pada suatu permukaan, baik itu nyata maupun semu. Suatu permukaan mungkin kasar, mungkin juga halus, mungkin juga lunak mungkin juga kasap atau licin dan lain-lain.

c.    Prinsip Penyusunan Elemen Seni Rupa
1)    Proporsi
Proporsi artinya perbandingan ukuran keserasian antara satu bagian dengan bagian yang lainnya dalam suatu benda atau susunan karya seni (komposisi). Untuk mendapatkan proporsi yang baik, kita harus selalu membandingkan ukuran keserasian dari benda atau susunan karya seni tersebut. Misalnya, membandingkan ukuran tubuh dengan kepala, ukuran kursi dengan meja, ukuran objek dengan ukuran latar, dan kesesuaian ukuran objek dengan objek lainnya. Karya seni yang tidak proporsional tampak tidak menarik dan kelihatan janggal. Untuk itu dalam penciptaannya harus dibuat sesuai dengan proporsi yang sebenarnya.
2)    Keseimbangan
Keseimbangan (balance) adalah kesan yang didapat karena adanya daya tarik yang sama antara satu bagian dengan bagian lainnya pada susunan karya seni. Balance didapat dari dua kesan, yakni karena adanya ukuran dan bentuk dan karena adanya warna. Karena adanya ukuran dan bentuk disebut balans ukuran atau bentuk dan karena adanya warna disebut balans warna. Apabila dilihat dari bentuk susunannya, keseimbangan dibedakan menjadi 3, yaitu keseimbangan simetris, asimetris, dan radial.
3)    Irama
Irama (ritme) adalah pengulangan yang terus menerus dan teratur dari suatu unsur atau beberapa unsur. Untuk mendapatkan gerak irama (ritmis) dapat diperoleh dengan cara, yaitu melalui pengulangan bentuk (repetisi); melalui penyelangan dan pergantian (variasi); melalui progresi atau gradasi,
yakni suatu urutan atau tingkatan seperti dari besar makin lama makin makin mengecil atau dari gelap sekali, kemudian menurun menjadi gelap dan akhirnya menjadi terang; melalui gerak garis berkesinambungan (kontinu).
4)    Klimaks
Klimaks disebut juga dominan, adalah fokus dari susunan karya seni yang mendatangkan perhatian. Oleh sebab itu, istilah klimaks sering disebut dengan istilah centre of interest (pusat perhatian). Untuk menciptakan pusat perhatian pada karya desain, tempatkan salah satu unsur secara tersendiri atau berbeda dari unsur lainnya.
5)    Kesatuan
Kesatuan (unity) adalah prinsip utama dalam hal penciptaan bentuk. Dengan kesatuan, elemen seni rupa dapat disusun sedemikian rupa hingga menjadi satu kesatuan bentuk yang terorganisir dari setiap unsur desain hingga tercapailah suatu karya seni atau sebuah karya desain yang menarik dan harmonis.
6)    Harmoni
Harmoni adalah sebuah kesatuan dari keseluruhan semua prinsip seni di atas. Keharmonisan merupakan hasil dari kesemuanya hingga membentuk satu karya yang utuh.

d.    Seni Rupa Etnis Indonesia
Seperti yang telah diketahui bahwa Indonesia memiliki kekayaan seni budaya yang sangat kaya, dari sekian banyak itu ada beberapa yang termasuk seni rupa yang menonjol untuk diperhatikan dan dibahas secara lebih khusus, di antaranya adalah batik, wayang, dan keris. Ketiga jenis seni rupa ini sangat populer hingga ke manca negara.
1)    Seni Batik
Seni batik di Indonesia usianya telah sangat tua, namun belum diketahui secara pasti kapan mulai berkembang di Indonesia, khususnya di Jawa. Banyak negara seperti India, Cina, Thailand, dan terakhir Malaysia, mengakui bahwa batik berasal dari sana. Namun demikian, dalam kenyataannya perkembangan batik yang menjadi sangat populer dan mendunia berasal dari Indonesia-Jawa. Hal ini dibuktikan dengan diadopsinya istilah batik ke dalam bahasa Inggris. Jejak penggunaan kain batik diketemukan pada patung dan relief di candi-candi.
Dalam perkembangan penggunaannya sejak masa kerajaan di Jawa, penggunaan batik menunjukan status kebangsawanan dan ritual yang sedang
diselenggarakan. Misalnya untuk motif-motif tertentu seperti parangbarong, parang-rusak hanya boleh dikenakan oleh raja, kemudian ketika ada ritual perkawinan, sang pengantin dianjurkan menggunakan motif truntum, atau sidomukti yang memiliki makna harapan positif bagi sang pengantin. Namun, saat ini aturan tradisi tersebut sudah kurang ditaati oleh kebanyakan masyarakat.
Description: C:\Users\sulistyo\Downloads\www.selaras.com.jpg
Gambar: Batik Parang
Sumber: www.selaras.com

Motif batik jumlahnya tak terhitung banyaknya, motif-motif batik memiliki ciri khas yaitu hasil dari stilasi dan abstraksi, disusun secara acak dan mengikuti prinsip pengulangan, selang-seling dengan arah diagonal, vertikal, ataupun horizontal. Dilihat dari gaya dan corak motif batik dapat dibedakan menjadi dua, yakni motif batik pedalaman dan pesisir. Batik pedalaman diwakili oleh  surakarta dan Yogyakarta cenderung warnanya berat dan gelap terdiri dari hitam, biru, putih, dan coklat. Bentuk motifnya merupakan abstraksi dan stilasi alam lingkungan seperti motif parang, garuda, hujan, kawung dan sebagainya. Sedangkan batik pesisir warnanya cerah, ringan dan bebas. Bentuk motifnya banyak berupa stilasi dari alam seperti gunung, awan, burung, tumbuh-tumbuhan, naga, kaligrafi Arab. Hal ini diduga banyak mendapat pengaruh dari seni rupa Cina karena kontak perdagangan terutama di daerah Pekalongan.
Teknik membatik pada prinsip dasarnya adalah tutup dan celup untuk mendapatkan motif yang diinginkan. Alat dan bahan utama yang digunakan adalah berupa canting, wajan, dan kompor, sebelum ada kompor pembatik menggunakat anglo (tungku kecil dibuat dari gerabah). Bahan penutupnya disebut malam terdiri dari campuran gondorukem, damar mata kucing, microwax, lemak binatang, minyak kelapa, dan lilin bekas. Bahan pewarnanya terdiri dari pewarna alami dan sintetis. Pewarna alami berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti daun pohon jati, daun teh, akar menggkudu, untuk warna coklat; daun indigo untuk warna biru. Pewarna sintetis ada beberapa jenis yang populer yang dijual di toko yaitu Naphtol, Indigosol dan rhemasol. Bahan kain yang biasa digunakan adalah kain dari bahan katun dan sutera. Kain dengan bahan dasar sintetis kurang cocok menggunakan bahan pewarna tersebut.
Untuk mencairkan malam dilakukan dengan memanaskannya. Malam dimasukkan ke dalam wajan kecil yang diletakkan di atas tungku kecil tanah liat yang disebut anglo, bahan bakarnya digunakan arang kayu. Teknik membatik dengan menggunakan canting dilakukan selama berabad-abad. Pada tahun 1840 teknik membatik mengalami kemajuan dengan diketemukannya ’canting cap’ sehingga mempercepat proses produksi. Hal ini didukung pula dengan diketemukannya warna sintetis pada tahun 1918 di kawasan Eropa yang dapat memperpendek proses pewarnaan. Penggunaan warna alami dapat memakan waktu berharihari, sedangkan pewarnaan sintetis hanya memerlukan waktu beberapa menit, dengan demikian produksi kain batik mengalami  perkembangan yang sangat pesat. Selain teknik batik dengan menggunakan malam, adapula teknik membatik tidak mengunakan malam yang disebut kain
jumputan. Motif kain ini didapat dengan menggunakan teknik mengikat kain dengan benang, motif-motifnya sangat terbatas pada bentuk bulat karena teknik ikat tidak seleluasa menggunakan lilin dan canting dalam membentuk motif yang diinginkan.

2)     Wayang
Indonesia boleh bangga karena mewarisi kesenian wayang yang diakui sebagai warisan peradaban manusia yang berkualitas tinggi oleh lembaga kebudayaan dunia Unesco. Sama halnya dengan batik, wayang juga belum diketahui dengan pasti kapan mulainya, siapa pencipta awalnya, dan dimana tempat dilahirkan. Banyak versi pendapat mengenai wayang, ada yang menduga wayang merupakan hasil seni dan budaya asli Indonesia yang berkaitan dengan dunia para leluhur. Ada pula yang berpendapat wayang berasal dari India. Namun dalam misteri dan kenyataannya wayang telah hadir pada relief-relief candi di Jawa Timur.
Secara etimologi wayang berarti bayangan, penamaan ini mungkin karena wayang dinikmati melalui bayangannya Jenis wayang cukup banyak namun yang populer di masyarakat adalah wayang kulit dan wayang golek. Wayang kulit terbuat dari kulit binatang khususnya kulit sapi, dan wayang golek terbuat dari kayu untuk bagian badan dan kepala, bahan kain digunakan untuk pakaiannya.
Menurut tempat atau daerah, ada beberapa jenis wayang antara lain wayang Sunda, wayang Jawa, wayang Madura, wayang Bali, dan wayang Sasak. Wayang Sunda lebih dominan wayang goleknya, sedang wayang lainnya yang disebut wayang kulit antara daerah satu dengan lainnya berbeda dalam ungkapan bentuknya. Wayang Jawa dan Madura ukuran bentuknya lebih besar dibanding wayang Bali dan wayang Sasak. Wayang Bali sangat mirip dengan relief pada badan candi di Jawa Timur.
Berdasarkan cerita yang dilakonkan, menurut Calire Holt wayang dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu wayang Purwa, wayang Gedhog, dan wayang Madya. Wayang Purwa berarti wayang awal atau mula-mula, cerita yang dilakonkan mengambil cerita Hindu yang berasal dari India. Cerita atau mitos Hindu dibedakan menjadi empat, yakni: Adiparwa, Arjuna Sasrabahu, Mahabaratha, dan Ramayana. Wayang Madya berarti tengah, mengambil ceritera tentang silsilah raja Jawa terutama raja Jayabaya dari Kediri Jawa Timur.
Description: C:\Users\sulistyo\Downloads\httporig06.deviantart.net.jpg
Gambar: Wayang
Sumber: porig06.deviantart.net

Karakter wayang Purwa dapat diklasifikasikan menurut oposisi berlawanan, yakni halus x kasar, baik x jahat, dewa x raksasa, kesatria x jahat. Kedua karakter berlawanan ini dapat diidentifikasikan melalui tampilan fisiknya. Misalnya tokoh keras matanya bulat, tokoh halus matanya sipit kepala menunduk. Tokoh jahat mulutnya bertaring, tokoh kesatria tersenyum. Sifat-sifat tokoh yang digambarkan dapat pula dilihat dari warnanya. Tokoh keras warnanya coklat tua, atau merah, sedang tokoh halus warnanya kekuningan, dan putih. Secara tradisional wayang difungsikan untuk melakukan ruwatan atau pembersihan seseorang dari sial dan kemalangan karena waktu kelahirannya atau kondisi hidupnya, juga pembersihan desa jika dirasa terjadi banyak bencana, hama, dan wabah penyakit. Biasanya ceritera yang dipentaskan untuk ruwatan adalah Murwakala. Selain itu wayang juga berfungsi untuk mendidik masyarakat dalam hal moral dan agama serta sebagai hiburan, sehingga untuk menjadi seorang dalang harus menguasai berbagai disiplin dan kemampuan.

3)    Keris
Keris memiliki sejarah yang panjang dan penyebarannya tidak hanya di Jawa, tetapi hampir di seluruh wilayah Indonesia bahkan ke utara hingga
Philipina, dan ke barat hingga Malaysia. Bukti autentik tentang keris terekam pada relief candi Penataran di Jawa Timur pada abad ke 13 dan candi Sukuh pada abad ke 15. Keris bagi masyarakat khususnya di Jawa dan Bali tidak hanya berfungsi sebagai senjata, tetapi juga berfungsi sebagai pusaka keluarga yang diwariskan secara turun temurun. Pada zaman kerajaan keris amat penting fungsinya sebagai pusaka kerajaan dan dianggap memiliki kekuatan ’sakti’ yang melindungi keluarga raja dan masyarakat.
Description: C:\Users\sulistyo\Downloads\www.pinterest.com.jpg
Gambar: Keris
Sumber: www.printerest.com

Menurut Soedarso ada beberapa ciri-ciri keris yaitu: (a) keris terdiri dari dua bagian yaitu bilah atau badan keris dan pangkal keris disebut ganja, (b) keris selalu bermata dua atau tajam kedua sisinya, (c) bentuk keris selalu asimetris, (d) posisi bilah terhadap ganja tidak tegak lurus, (e) Keris dibuat dengan teknik tempa dari kombinasi beberapa jenis logam. Jadi menurut kriteria ini, apabila ada senjata di luar kriteria itu bukan disebut keris.
Selain sebagai benda bertuah, keris juga memiliki nilai seni yang tinggi. Bentuk keris ada yang bergelombang (luk) dan ada yang lurus, bagian ujung bawah (ganja) dekat gagang lebih lebar dari pada ujung atasanya dan ada yang berhiaskan naga, burung, singa dan sebagainya. Kadang ada yang diberi hiasan ornamen dengan emas dan permata. Bahan keris terdiri dari campuran berbagai jenis logam seperti besi, baja, tembaga, nikel ditempa dan dibentuk menjadi satu kesatuan.
Dalam proses pembentukannya logam nikel yang warnanya paling terang membentuk motif hiasan abstrak yang disebut pamor. Kiranya pamor terbentuk ketika badan keris ditempa dengan panas yang tinggi sehingga membentuk motif-motif pamor yang tak terduga sebelumnya, seperti halnya teknik marbling ketika cat minyak dituang ke dalam air lalu bentuk catnya ditangkap dengan kertas. Pamor yang didapat dengan cara ini disebut sebagai pamor tiban, dan ini dipercaya sebagai anugrah dari Tuhan. Pamor jenis ini antara lain disebut Beras Wutah, Mrutu Sewu, dan Tunggak Sem, sedangkan motif yang sengaja didesain, dibentuk, dikontrol dan distandarkan bentuknya disebut pamor rekan antara lain pamor Adeg, Ron Genduru, Ri Ider, dan Naga Rangsang. Sebenarnya jenis pamor keris jumlahnya ada lebih dari seratus motif.
Jenis-jenis pamor tersebut diyakini masing-masing memiliki kekuatan spiritual tertentu. Misalnya ada pamor untuk kewibawaan berarti cocok untuk pemimpin, sedangkan pamor untuk mendapat rezeki cocok untuk pedagang dan pengusaha. Standarisasi bentuk pamor keris berguna untuk menentukan tuah dan kegunaannya. Di Bali tuah keris utamanya dilihat dari hitungan panjang berbanding lebar keris tepat di bagian tengah antara ujung dan pangkal keris. Lebar keris disebut lumbang rai, untuk mengukurnya dapat digunakan janur atau tali. Janur dilipat-lipat sesuai lebar keris dan jumlah hasil lipatan menentukan tuah keris.

2.    Seni Tari
Pengertian seni tari menurut Cooric Hartoong, seorang ahli tari dari Belanda, adalah gerak-gerak yang diberi bentuk ritmis dari badan di dalam ruang. Sedangkan menurut Kamaladevi Chattopadhaya, seorang ahli tari dari India, memberikan batasan tentang tari yang merupakan desakan perasaan manusia yang mendorongnya untuk mencari ungkapan berupa gerak-gerak yang ritmis. Sedangkan menurut Curt Sachs mengutarakan definisi tari menjadi lebih singkat, yaitu gerak ritmis. Berdasarkan beberapa pendapat di atas tampak dengan jelas bahwa dalam setiap tari pasti adanya sebuah gerakan, maka gerakan menjadi elemen utama dan ritme merupakan elemen kedua.
Seni tari merupakan seni yang dapat dicerap melalui indra penglihatan, di mana keindahannya dapat dinikmati dari gerakan-gerakan tubuh, terutama gerakan kaki dan tangan, dengan ritme-ritme teratur, yang diiringi irama musik yang dicerap melalui indra pendengaran. Seni tari tidak bisa lepas dari seni visual, karena gerakan yang diperagakan dicerap indra penglihatan, demikian juga dengan tata busana dan tata rias yang dikenakannya.
Indonesia memiliki banyak macam tarian daerah yang sangat terkenal hingga ke manca negara, seperti Serampang Dua Belas di daerah etnis Melayu, Seudati di Aceh, Jaipongan di Sunda Jawa Barat, tari Cak di Bali, tari Bedaya Srimpi dan Gambyong di Jawa, dan jenis-jenis tarian atau rakyat lainnya, seperti tari Selang, Ronggeng, dan Tayub yang masih hidup di lingkungan rakyat pedesaan di Indonesia. Sedangkan di dunia barat ada beberapa jenis tari yang sangat dikenal, seperti Ballrom, Balet, Waltz, Tango, Cha cha cha, dan lain-lain.
Berdasarkan jenisnya, tari dibagi menjadi menjadi tari rakyat, tari klasik, dan tari kreasi baru. Pertama, tari rakyat hidup dan berkembangan di kalangan rakyat seperti tari Tayub dari Jawa tengan dan Jawa Timur, tari Gandrung Banyuwangi dari Blambangan Jawa Timur, Joged Bumbung dari Bali, Sahu Reka-reka dari Maluku, dan lain sebagainya yang dimiliki rakyat Indonesia. Kedua, tari klasik hampir tidak dapat dipisahkan dengan istana atau kraton, mengingat di tempat itulah pertunjukan ini lahir dan berkembangan sampai memasuki proses kristalisasi estetis yang tinggi. Contohnya adalah tari klasik dari Yogyakarta dan Surakarta, antara lain adalah tari Bedhaya, Srimpo, Beksan Lawung, dan Wayang Wong. Ketiga, tari kreasi baru merupakan upaya memasyarakatkan seni istana dan seni ritual berlabel nasional. Wal Spies pada tahun 1930-an memberikan saran agar seniman Bali menciptakan taru yang tidak hanya untuk kepentingan ritual, tetapi juga jenis tarian yang bisa ditonton siapa saja dan kapan saja. Contoh dari tari kreasi baru yang diciptakan di Bali adalah drama tari Barong dan Cak yang selalu dihadirkan kepada para Wisatawan. Demikian juga di Jawa, Sardono W. Kusuma dan Bagong mencoba menampilkan tari kreasi baru yang diangkat dari tari-tari tradisi.
a. Pokok dalam Tari
1)    Gerak
Kebanyakan manusia dalam kehidupannya sangat mengharap terjadinya perubahan. Gerak dalam aktivitas manusia menjadi bagian penting dari manusia yang masih hidup, dinamis, dan sangat mennghayati dinamika terutama hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Dalam berbagai peristiwa, manusia hidup berkembang dan bergerak. Perubahan atas perkembangan dan gerakan yang terjadi sebagai dinamika manusia menjadi inti adanya perubahan yang diharapkan. Dengan itu manusia merancang dan mendesain sedemikian rupa untuk perkembangan dan perubahan yang diinginkan. Faktor keberuntungan dan kehendak yang kuasa segala yang diinginkan perkembangan dan perubahan atas manusia menjadi pasrah.
Gerak dalam kehidupan sehari-hari manusia yang kurang menghayati kehidupan banyak diabaikan. Akan tetapi untuk yang menghayati dinamisasi gerak menjadi obyek yang banyak dipelajari dan dimaknai agar menjadi
segala sesuatu yang berguna bagi diri maupun masyarakat lain, termasuk dalam hal ini adalah tari.
Elemen pokok tari adalah gerak. Rudolf Laban pakar tari kreatif menyatakan bahwa gerak merupakan fungsional dari Body (gerak bagian
kepala, kaki, tangan, badan), space (ruang gerak yang terdiri dari level, jarak, atau tingkatan gerak), time (berhubungan dengan durasi gerak, perubahan sikap, posisi, dan kedudukan), dan dinamyc (kualitas gerak menyangkut kuat,
lemah, elastis dan penekanan gerakan).
Berpijak kepada pendapat di atas, tari terdiri dari unsur gerak sebagai unsur utama, ruang, waktu, dan tenaga. Fungsi gerak yang dihasilkan oleh tubuh manusia pada dasarnya dapat dibedakan menjadi gerak keseharian, olah raga, gerak bermain, bekerja, dan gerak sehari-hari. Pada khususnya, tari lebih menekankan kepada gerak untuk berkesenian, di mana gerak dalam tari merupakan gerak yang sudah distilisasi atau distorsi.
Gerakan bersifat lembut dan mengalir, serta terputus-putus dan tegas merupakan pola gerak yang menjadi ciri pembeda antara gerakan tari putra
dan tari putri. Gerakan yang berada diantara gerakan berciri stakato atau patah-patah dan mbanyu mili, disebut gerak tari tengahan, biasanya dilakukan untuk jenis karakter herak tari tengahan atau alusan. Uraian ciri gerak ini sering dilihat pada jenis tari yang berasal dari daerah Jawa (tari Surakarta dan tari Yogyakarta).
Imitasi atau peniruang gerak dengan pengembangan ruang gerak, motif gerak, dan gerak dalam ruang secara harmonis dengan ketentuan gerakan yang diperagakan serta pengolahan ruang yang diharapkan.
Perhatikan kedua gambar di bawah ini adalah bentuk/motif gerak Jengkeng pada tari Klasik Jawa dan sikap dasar Pencak silat dalam bentuk
kedua kaki melebar bertumpu secara kuat dan mencengkeram ke tanah (kuda-kuda).

2)    Ruang
Ruang gerak penari tercipta melalui desain. Disain adalah gambaran  yang jelas dan masuk akal tentang bentuk/wujud ruang secara utuh. Bentuk ruang gerak penari digambarkan secara bermakna ke dalam; desain atas dan disain lantai (La Meri: 1979: 12). Ruang gerak tari diberi makna melalui garis lintasan penari dalam ruang yang dilewati penari.
Kebutuhan ruang gerak penari berbeda-beda. Jangkauan gerak yang dimiliki oleh setiap gerakan sesungguhnya juga dapat membedakan jangkauan gerak penari secara jelas. Bentuk dan ruang gerak yang dimiliki oleh penari membutuhkan jangkauan gerak, berhubungan dengan kebutuhan, dan kesanggupan penari dalam melakukan gerakan. Dengan demikian gerakan penari sesuai pengarahan koreografer. Dalam mendesain ruang gerak penari, koreografer menyesuaikan, bagaimana penari bergerak dan dapat mencapai desain yang sesuai dengan kebutuhan gerakan. Penari membutuhkan sensitivitas rangsang gerak sebagai bentuk ekspresi keindahan gerak yang dilakukan.
Kebutuhan ekspresi gerak oleh penari berhubungan dengan kemampuan penari menginterpretasikan kemauan koreografer dalam melakukan gerakan yang diberikan. Dengan demikian terjadi sinkronisasi kemauan koreografer dalam mendisain gerak dengan kepekaan penari dalam menafsirkan gerakan melalui peta ruang.
Penari tidak semata-mata memerlukan ruang gerak yang lebar saja. Kebutuhan ruang gerak yang sempit, juga menjadi bagian penerjemahan ruang gerak tari oleh penari. Ruang gerak penari menjadi alat yang ampuh dalam menciptakan disaian tentang ruang oleh penari maupun koreografer.
Ruang gerak penari dengan jangkauan gerak luas membutuhkan teknik dan karakterisasi gerak yang dalam oleh penari. Kebutuhan teknik gerak yang harus dilakukan penari adalah bagaimana penari mengawali dan mengakhiri gerakan, dan dasar teknik gerak seperti apa penari harus menuntaskan harapan geraknya.
Penari dalam mengekspresikan jangkauan gerak membutuhkan ekspresi gerak yang sepadan dengan jangkauan geraknya. Ekuivalen gerak dan jangkauan gerak menjadi tuntutan koreografer dalam menciptakan ruang gerak penari serta penghayatan yang diperlukan penari dalam mencapai tujuan gerakan tersebut.

3)    Tenaga
Gerak tari yang diperagakan menunjukan intensitas gerak yang dapat menjadi salah satu indikasi. Tenaga yang diwujudkan oleh gerakan  berhubungan dengan kualitas gerak. Hal ini dapat tercermin pada tenaga yang disalurkan oleh penghasil gerak dalam mengisi gerak menjadi dinamis, berkekuatan, berisi, dan menjadi anti klimak dari tensi dan relaksasi gerak secara keseluruhan.

4)    Ekspresi
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia mengekspresikan diri bergantung pada situasi psikologis yang bersangkutan dalam menghadapi berbagai masalah. Ekspresi diri manusia secara umum berbeda dengan ungkapan ekspresi di dalam tari. Perbedaan yang ada bahwa ekspresi tari semua yang berhubungan dengan perubahan psikologis, pembawaan suatu karakter, memiliki keterbatasan pada cara mengungkapkannya. Sebagai ilustrasi bahwa, marah dalam kehidupan sehari-hari dapat diekspresikan dengan berbagai cara dan kepekaan diri di dalam melakukan luapan. Dalam tari semua ungkapan yang diperagakan harus distilisasi atau didistorsi, sehingga wujud ungkapannya menjadi berbeda. Di sinilah letak pembeda dari cara penghayatan sebuah ungkapan ekspresi diri dan penghayatan karakter dalam seni maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Ekspresi dalam tari lebih merupakan daya ungkap melalui tubuh ke dalam aktivitas pengalaman seseorang, selanjutnya dikomunikasikan pada penonton atau pengamat menjadi bentuk gerakan jiwa, kehendak, emosi atas penghayatan peran yang dilakukan. Dengan demikian daya penggerak diri penari ikut menentukan penghayatan jiwa ke dalam greget (dorongan perasaan, desakan jiwa, ekspresi jiwa dalam bentuk tari yang terkendali).

5)    Iringan Tari
Iringan dan tari adalah pasangan yang serasi dalam membentuk kesan sebuah tarian. Keduanya seiring dan sejalan, sehingga hubungannya sangat erat dan dapat membantu gerak lebih teratur dan ritmis. Musik yang dinamis dapat menggugah suasana, sehingga mampu membuat penonton memperoleh sentuhan rasa atau pesan tari sehingga komunikatif. Musik dalam tari memberi keselarasan, keserasian, keseimbangan yang terpadu melalui alunan keras-lembut, cepat-lambat melodi lagu. Pada dasarnya tari membutuhkan iringan sebagai pengatur gerak.

b. Jenis Tari
1)    Tari Tradisional
Tari Tradisional adalah tari yang telah baku oleh aturan-aturan tertentu. Dalam kurun waktu yang telah disepakati, aturan baku diwariskan secara turun menurun melalui generasi ke generasi. Tarian jenis ini telah mengalami perjalanan cukup panjang, bertumpu pada pola garapan tradisi yang kuat. Tari jenis ini biasanya memiliki sifat kedaerahan yang kental dengan pola gaya tari atau style yang dibangun melalui sifat dan karakter gerak yang sudah ada sejak lama.
Description: C:\Users\sulistyo\Downloads\tari topeng astyulianti.wordpress.com.jpg
Gambar: Tari Tradisional, Tari Merak
Sumber: Astyulianti.wordpress.com

Tari-tarian tradisional yang dilestarikan oleh generasi pendukung biasanya sangat diyakini atas kemasyalakatannya. Masyarakat yang mau terlibat di sini ikut andil dalam melestarikan tari tradisional melalui rasa tanggung jawab dan kecintaan yang tidak bisa dinilai harganya. Masyarakat yang bersangkutan memandang bahwa tarian jenis ini menjadi salah satu bentuk ekspresi yang dapat menentukan watak dan karakter masyarakat yang mencintai tarian tersebut. Dengan demikian tergambar perangai, kelakukan dan cermin pribadinya.
Tari Tradisional yang berkembang di manca daerah Indonesia sangat beragam dan bervariasi tumbuh berkembangnya dalam aktivitas kehidupan
masyarakat pendukungnya. Banyak diantaranya untuk keperluan Agama, Adat, dan Keperluan lain berhubungan ritual yang diyakini masyarakat di lingkungannya.

2)    Tari Primitif
Tari primitif merupakan tari yang berkembang di daerah yang menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Tarian ini lebih menekankan tari yang memuja roh para leluhur. Pada jaman ini jenis tarian ini sudah mulai tidak kedengaran lagi gaungnya. Beberapa jenis tari ini antara lain adalah tari.
Description: C:\Users\sulistyo\Downloads\tari primitif tari.blogspot.com.jpg
Gambar: Tari Primitif
Sumber: tari.blogspot.com

3)    Tari Rakyat
Tari-tarian yang disebut pada bab ini adalah tarian yang ingá kini berkembang di Daerah yang bersangkutan. Masalah pembagian apakah
termasuk fungsi dan peran yang dimiliki tidak diperhitungkan. Aceh dan Sumatra Utara kental imbas pengaruh Melayu. Ciri dan bentuk tari lebih dekat ke rumpun tari Melayu. Sumatra Utara (Sumut) tari Tor-tor gerak merapatkan dan  pengembangkan ke dua telapak tangan sambil bergerak di tempat dan geser kaki, Tari Cawan dengan membawa cewan di atas kepala. Tari Serampang Dua belas dengan gerak berpasangan muda mudi yang sedang berdendang. Tari Manduda, Tari Kain, Tari Andungandung, Tari Angguk, Tari Tari Mainang Pulau  sampai, Tari Baluse, Tari Tononiha, Tari Terang Bulan, Tari Pisu Suri, Tari Baina, Tari Tari Barampek, Tari Basiram Tari Bulang Jagar, Tari Buyut Managan Sihala, Tari Cikecur, Tari Kapri, Tari Karambik dll.
Description: C:\Users\sulistyo\Downloads\tari bakulan www.madiunpos.com.jpg
Gambar: Tari Bakulan

Pada uraian selanjutnya akan dibahas beberapa contoh jenis tari-tarian nusantara yang ada di Indonesia di mana keterbatasan data dapat dicontohkan sebagai berikut di bawah ini. Daerah Istimewa Aceh atau Nanru Aceh Darusalam (NAD). Tari Saman dengan gerakan rampak dan berselang-seling, Tari Saudati ciri tari dengan menepuk anggota tubuh penari masing-masing adalah penampakan ciri ke dua tari-tarian tersebut., Tari Anyung, Tari Ranu Labuhan. Tari Asuk,Tari Bak Saman, Tari Bantal Tepok tari ini langsung menggunakan bantal sebagai komando ritmik dan dinamika gerak melalui menepok bantal. Tari Bines, Bungong Sie Yung-yung, Tari Cincang Nangka, Tari Cuwek, Tari Landak Sampot, Tari Dampeng, Tari Kederen, Tari Labehati, Tari Lanieu, Tari Apeut, Tari dll.
Sumatera Barat, Tari Piring, Tari Payung, Tari Rambai dan Tari Lilin, Tari Ampun Mende, Tari Kain, Tari Karambik adalah tari klasik tradisional Sumbar.
Sumatera Selatan: tari Tepak/tari Tanggai dan tari Gending Sriwijaya (tari penyambutan), tari Paget Pengantin dan tari Ngibing (tari pengantin), tari Tabur, tari Burung Putih, tari Melimbang,Tari Temu, tari Dana dan Tari Sinjang  (tari rakyat atau pergaulan).Tari Andun. Bebe, Ttari Badaek, Tari Badalung, Tari Bayang Sangik, Tari Bedug dll.

4)    Tari Klasik
Tari Klasik adalah tari yang berkembang di kerajaan-kerajaan yang setelah ada di Indonesia. Puncak tari klasik terdapat pada kerajaan di Indonesia khususnya di yogyakarta, Surakarta, Kasepuhan Cirebon, kerajaan Bone, kerajaan Mataram Kuno, dan Kerajaan Klungkung di Bali.
Description: C:\Users\sulistyo\Downloads\klasik bedhaya arum9a28.blogspot.com.jpg
Gambar: Tari Klasik Bedhaya
Sumber: arum9a28.blogspot.com


5)    Tari Nontradisional
Tari Nontradisional adalah tari yang tidak berpijak pada aturan yang sudah ada seperti tari tradisional. Tari jenis ini tari pembaruan. Tari nontradisional lebih mengungkapkan gaya pribadi. Contoh tarinya adalah tari karya Didik nini towok misalnya tari wek-wek, persembahan. Tari karya Bagong Kussudihardjo misalnya tari yapong, wira pertiwi. Karya Wiwik Widyastuti tari cantik, tari karya Abdul rochem tari Gitek balen, tari nandak ganjen karya Entong sukirman dll.
Description: C:\Users\sulistyo\Downloads\tari nontradisional kfk.kompas.com.jpg
Gambar: Tari Nontradisional
Sumber: kfk.kompas.com

3.    Seni Musik
Musik adalah hasil karya seni bunyi dalam bentuk lagu atau komposisi
musik yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penciptanya, melalui
unsur-unsur musik yaitu irama, melodi, harmoni, bentuk atau struktur lagu
dan ekspresi.
Klasifikasi alat musik menurut Curt Suchs dan Hornbostel adalah sebagai berikut ini.
1.    Idiophone : Badan alat musik itu sendiri yang menghasilkan bunyi. Contoh
triangle, cabaza, marakas
2.    Aerophone : Udara atau satuan udara yang berada dalam alat musik itu
sebagai penyebab bunyi. Contoh: recorder, seruling, saxsophone
3.    Membranophone : Kulit atau selaput tipis yang ditegangkan sebagi
penyebab bunyi. Contoh : gendang, conga, drum
4.    Chordophone : Senar (dawai) yang ditegangkan sebagai penyebab bunyi.
Contoh : piano, gitar, mandolin.
5.    Electrophone : Alat musik yang ragam bunyi atau bunyinya dibantu atau
disebabkan adanya daya listrik. Contoh keyboard. Untuk dapat
mempelajari musik dengan baik kita membutuhkan notasi musik atau
sistem nada.
Sepanjang sejarah banyak penyair, filsuf, penulis dan musikus sendiri berusaha mendefinisikan musik. Schopenhauer, filsuf jerman di abad ke-19 mengatakan dengan singkat, bahwa musik adalah melodi yang syairnya dalam semesta. Pengenalan terhadap musik akan menumbuhkan rasa penghargaan terhadap nilai seni, selain menyadari akan dimensi lain dari suatu kenyataan yang salama ini tersembunyi. Sedangkan David Ewen mengutip dari kamus menyatakan, musik adalah ilmu pengetahuan dan seni tentang kombinasi ritmit dari nada-nada, baik vokal maupun instrumental, yang meliputi melodi dan harmoni sebagai ekspresi dari segala sesuatu yang ingin diungkapkan terutama aspek emosional (Soedarsono R. B. dalam Soedarsono R. M., 1992:13). Seni musik atau seni suara adalah seni yang diterima melalui indera pendengarah. Rangkaian bunyi yang didengar dapat memberikan rasa indah menusia dalam bentuk konsep pemikiran yang bulat, dalam wujud nada-nada atau bunyi lainnya yang mengandung ritme dan harmoni, serta mempunyai bentuk dalam ruang waktu yang dikenal diri sendiri dan manusia lain dalam lingkungan hidupnya, sehingga dapat dimerti dan dinikmati. Secara garis besar, musik dibagi menjadi dua, yaitu pentatonis dan diatonis.
a.    Musik Pentatonis
Pertama, musik pentatonis adalah musik non-Barat (non-Diatonis) di mana untuk membunyikannya cenderung dengan cara memukul alat musik tersebut. Contoh musik pentatonis adalah gamelan atau karawitan Jawa, Karawitan Bali, karawitan Sunda, Gondang Batak, dan lain-lain.
Sistem notasi yang dipakai dalam gamelan Jawa adalah notasi pentatonik yaitu hanya menggunakan 5 buah nada. Notasinya disebut notasi kepatihan yang diciptakan oleh Raden Ngabehi Jaya Sudirga atau Wreksa Diningrat sekitar tahun 1910. Karena notasi angka ditulis di kepatihan maka notasi tersebut diberi nama notasi angka kepatihan. Sebelum muncul notasi angka Demang Kartini telah menciptakan notasi rante, karena dia tidak bisa menabuh gamelan maka diserahkan pada Sudiradraka (Guna Sentika) lalu oleh Sudiradraka diserahkan ke Kepatihan yaitu kepada Sasradiningrat IV, kemudian diserahkan kepada adiknya Wreksodiningrat. Kemudian Wreksodiningrat punya ide yaitu memberi angka pada bilah saron karena untuk pembelajaran menabuh gamelan dan memindahkan notasi rante agar mudah dibaca pada tahun 1890.
Pengertian karawitan adalah kesenian yang meliputi segala cabang seni yang mengandung unsur-unsur keindahan, halus, serta rumit atau ngrawit. Secara khsus, pengertiannya adalah ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan melalui media suara atau bunyi, baik  vokal maupun instrumental yang beralaskan slendro atau pelog. Musik vokal adalah musik yang hanya mengandalkan suara manusia saja, sedangkan musik instrumental adalah musik yang diperoleh dari memainkan alat-alat musik.
Tangga nada dalam bahasa Jawa secara umum disebut laras atau secara lengkap disebut titi laras, istilah titi dapat diartikan sebagai angka, tulis, tanda, notasi atau lambang sedangkan istilah laras dalam pengertian ini berarti susunan nada. atau tangga nada. Dan dalam bahasa Indonesia titilaras berarti tangganada. Dengan demikian istilah titilaras mempunyai pengertian suatu notasi tulis, huruf, angka atau lambang yang menunjuk pada ricikan tanda-tanda
nada menurut suatu nada tertentu. Dalam penggunaan sehari-hari istilah titi laras sering disingkat menjadi laras. Laras ini mempunyai 2 macam, yaitu ada 2 jenis titilaras yaitu:
1)   Laras Slendro, secara umum suasana yang dihasilkan dari laras slendro adalah suasana yang bersifat riang, ringan, gembira dan terasa lebih ramai. Hal ini dibuktikan banyaknya adegan perang, perkelahian atau baris diiringi gending laras slendro. Penggunaan laras slendro dapat memberikan kesan sebaliknya, yaitu sendu, sedih atau romantis. Misalnya pada gending yang menggunakan laras slendro miring. Nada miring adalah nada laras slendro yang secara sengaja dimainkan tidak tepat pada nada-nadanya. Oleh karena itu banyak adegan rindu, percintaan kangen, sedih, sendu, kematian, merana diiringi gendhing yang berlaras slendro miring.
2)   Laras Pelog, secara umum menghasilkan suasana yang bersifat memberikan kesan gagah, agung, keramat dan sakral khususnya pada permainan gendhing yang menggunakan laras pelog nem. Oleh karena itu banyak adegan persidangan agung yang menegangkan, adegan masuknya seorang Raja ke sanggar pamelegan (tempat pemujaan). Adegan marah, adegan yang menyatakan sakit hati atau adegan yang menyatakan dendam diiringi gendhing-gendhing laras pelog. Tetapi pada permainan nada-nada tertentu laras pelog dapat juga memberi kesan gembira, ringan dan semarak. misalnya pada gendhing yang dimainkan pada laras pelog barang. Laras pentatonik yaitu susunan nadanya tidak hanya mempunyai jarak 1 dan ½, tetapi juga Titilaras yang ada antara lain :
1.     Titilaras kepatihan, dibuat tahun (1910) oleh Kanjeng R.M Haryo Wreksadiningrat di Keraton Surakarta.
2.     Titilaras ding-dong, dibuat oleh pegawai di Singhamandawa 896 M tidak berupa angka tapi berupa lambang : dong, deng, dung, dang, ding yang digunakan untuk mencatat dan mempelajari gamelan Bali.
3.     Titilaras daminatilada, yakni titilaras ciptaan R.M. Machjar Angga Koesoemadinata untuk karawitan sunda (1916).
Titilaras berwujud angka 1 2 3 4 5 6 7 I sebagai pengganti nama
bilahan gamelan agar lebih mudah dicatat dan dipelajari, namun dibacanya ji ro lu pat ma nem pi ji. Tinggi rendah nada titilaras bagi laras slendro dan pelog berbeda. Pada laras slendro tingkatan suara untuk tiap nada adalah sarna, setiap satu oktaf dibagi menjadi 5 laras, tetapi pada gamelan laras pelog, tingkatan nada masing-masing bilahan tidak sama.

b.    Musik Diatonis
Kedua, sistem nada diatonis berawal dari bangsa Yunani (sebelum 1100 SM), Terpender adalah orang yang mengembangkan susunan nada semula 4 nada dan Polynertus (700 SM) orang yang menggunakan sistem 7 nada. Tangga nada Diatonis adalah tangga nada yang mempunyai jarak nada 1 dan ½. Selain itu, musik diatonis dihasilkan dari piano atau gitar dalam instrumen tunggal, ansambel yang merupakan kombinasi beberapa alat musik, dan orkestra atau orkes lengkap yang di Barat digolongkan dalam enam kelompok, yaitu alat musik gesek, tiup kayu, tiup logam, perkusi, menudal, dan elektronik. Alat-alat tersebut dapat dimainkan seara instrumental atau sebagai pengiring vokal. Sedangkan jangkauan dan awarna suara pria maupun wanita diklarifikasikan menjadi: Suprano, Mezzo Soprano, dan Alto untuk wanita, dan Tenor, Bariton, dan Bas bagi pria.

c.    Musik Tradisi Indonesia
Kesenian yang berdasarkan nilai-nilai budaya nusantara yang
beragam, seni yang berakar dari tradisi. Topik atau materi yang dibahas tidak
dapat meliputi keseluruhan propinsi, musik tradisi yang dapat dikupas hanya
terdiri dari beberapa kesenian berdasarkan pertimbangan belum semua
propinsi mendata kesenian daerahnya, beberapa kesenian telah dikenal luas,
tebanya (namanya) telah mendunia seperti Gamelan Jawa dan Kesenian
Bali, kesenian ini juga mengandung banyak hal dari keragaman seni
budayanya. Kesenian yang akan dibahas adalah: Musik Betawi, Musik Bali, Gamelan Jawa, Angklung sebagai salah satu kesenian Jawa Barat, dan Sampe sebagai salah satu kesenian Kalimantan Timur.
1)    Musik Betawi
Kesenian yang “representative” mewakili Betawi adalah, Ondel-ondel. Sejarah kesenian ondel-ondel dimulai pada 1605, iring-iringan Pangeran Jayakarta untuk ikut merayakan pesta khitanan Pangeran Abdul Mafakhit (Pangeran Banten), Pangeran Jayakarta membawa boneka berbentuk raksasa yang sekarang kita kenal sebagai “ondel-ondel” yang dianggap sebagai pelindung untuk menolak bala.
Description: C:\Users\sulistyo\Downloads\tanjidor romlah.com.jpg
Gambar: Musik Tanjidor
Sumber: romlah.com

Keanekaragaman musik Betawi dapat kita lihat antara lain pada orkes
gambang kromong, yang sangat kental dengan ­entat Cina, pengaruh Eropa jelas terlihat pada musik tanjidor, ­entat melayu tampak ­entaton pada orkes samrah, dan musik Betawi yang bernafaskan Islam terlihat pada musik yang umumnya menggunakan alat rebana. Seni musik Betawi antara lain gambang kromong, tanjidor, keroncong tugu, gamelan ajeng, gamelan topeng, gamelan rancag, samrah dan macammacam rebana.


2)    Musik Bali
Seni Indonesia dalam hal ini fungsi kesenian dianggap tak berbeda
dengan fungsi ritual, kerumitan bentuk-bentuk kesenian mendorong kita untuk
memilih istilah kesenian ritual. Di Bali setiap kegiatan mempunyai kesenian
khusus yang ditampilkan ketika melakukan ritual. Di Bali istilah gamelan
adalah Gambelan.
Description: C:\Users\sulistyo\Downloads\baliloveindonesia.blogspot.com.jpg
Gambar: Gambelan Bali
Sumber: baliloveindonesia.blogspot.com

Gamelan Bali biasa digunakan untuk berbagai upacara. Gamelan sakral yang digunakan untuk Ngaben adalah Gambelan Luwang, Gambelan Angklung, dan Gambang. Sedangkan untuk hiburan, gambelan yang biasa digunakan adalah Gong Gede,Gambelan Joged Bumbung, dan Gambelan Gambung.

3)    Gamelan Jawa
Gamelan atau gangsa adalah campuran dari perkataan tembaga ditambah rejasa. Tembaga dan rejasa adalah nama logam yang dicampur dengan cara dipanasi. Selain dari tembaga juga dapat dibuat dari jenis logam lain seperti kuningan dan besi, namun agar dapat menghasilkan kualitas suara yang baik, gamelan dibuat dengan cara ditempa.
Gamelan tebanya (gaungnya) telah mendunia, komponis abad 20 Debussy, pernah mengadopsi laras gamelan (Pentatonik) untuk komposisinya.
Festival Gamelan Dunia I diadakan di Vancouver Canada pada tanggal 18-21 Agustus 1986, di Indonesia festival Gamelan I baru diadakan di Yogyakarta pada tanggal 2-4 Juli 1995.
Description: C:\Users\sulistyo\Downloads\en.wikipedia.org.JPG
Judul: Gamelan Jawa
Sumber: en.wikipedia.org

Gamelan ada yang berlaras pelog dan yang berlaras slendro, Gamelan
yang berlaras pelog disebut Gamelan Pelog dan Gamelan yang berlaras
Slendro disebut Gamelan Slendro, perangkat gamelan ini adalah merupakan
bagian-bagian dari Gamelan Ageng yang mempunyai Fungsi Hiburan.
Perangkat-perangkat Gamelan adalah terdiri dari Bilahan: gambang, gender, saron, slentem; Pencon : gong, kempul, ketuk, kenong, bonang; Kebukan : Kendhang; Sebulan : Seruling; Dawai : Rebab, siter.
Gamelan Ageng
Perangkat gamelan ini dapat dikatakan sebagai perangkat gamelan
standar. Gamelan ini dipergunakan untuk berbagai keperluan yaitu hiburan, ritual, untuk berbagai ekspresi seperti pengiring wayang, tari, teater. Rincikan pada perangkat gamelan ageng adalah :
a)    Rebab : terdapat satu atau dua buah rebab. Biasanya rebab ponthang
untuk slendro dan rebab byur untuk pelog, dimainkan oleh seorang pengrawit.
b)    Kendhang : terdiri dari satu kendhang ageng, satu kendhang ketipung,
satu kendhang penunthung, satu kendhang ciblon dan satu kendhang wayangan, ditabuh satu atau dua pengrawit.
c)    Gender : satu gender slendro, satu gender pelog nem (atau bem) dan satu gender pelog barang. Semuanya berbilah 12 s/d 14 buah, ditabuh oleh seorang pengrawit.
d)    Gender penerus : satu rancak gender penerus slendro, satu gender penerus pelog nem (bem), dan satu gender penerus pelog barang, semua
berbilah antara 12 s/d 14 buah, ditabuh oleh seorang pengrawit.
e)    Bonang barung : satu rancak bonang barung slendro dengan 10 dan 12 pencon dan satu rancak bonang barung pelog, terdiri dari 14 pencon,
ditabuh oleh seorang pengrawit.
f)     Bonang penerus : satu rancak bonang penerus slendro dengan 10 atau
12 pencon dan satu rancak bonang penerus pelog, terdiri dari 14 pencon,
ditabuh oleh seorang pengrawit.
g)    Gambang: satu rancak gambang slendro, satu rancak gambang pelog
nem dan satu rancak gambang pelog barang, semua berbilah antara 18
s.d. 21 buah, ditabuh oleh seorang pengrawit.
h)    Slenthem: satu slenthem slendro dan satu slenthem pelog, masing-masing berbilah tujuh, ditabuh oleh seorang pengrawit.
i)      Demung: satu demung slendro dan satu demung pelog, masing-masing berbilah tujuh, ditabuh oleh seorang pengrawit.
j)      Saron barung: dua saron slendro dan dua saron pelog, masing-masing
berbilah tujuh. Kadang-kadang salah satu saron slendronya dibuat
dengan sembilan bilah. Saron sembilan bilah adalah saron yang biasa
digunakan untuk keperluan wayangan, ditabuh masing masing oleh
seorang pengrawit.
k)    Saron penerus: satu saron penerus slendro dan satu saron pene-rus
pelog, masing-masing berbilah tujuh, ditabuh oleh seorang pangrawit.
l)      Kethuk-kempyang: satu set untuk slendro dengan kempyang berlaras
barang dan kethuk berlaras gulu serta satu set untuk pelog. Kempyang
berlaras nem tinggi dan kethuk berlaras nem rendah, ditabuh oleh
seorang pengrawit.
m)  Kenong: tiga sampai enam pencon untuk slendro dan tiga sampai tujuh
pencon untuk pelog, ditabuh oleh seorang pengrawit.
n)    Kempul: tiga sampai enam pencon untuk slendro dan tiga sampai tujuh pencon untuk pelog.
o)    Gong suwukan: satu sampai dua pencon untuk slendro dan satu sampai tiga
pencon untuk pelog. Suwukan laras barang sering disebut dengan gong siyem.
p)    Gong ageng atau gong besar: satu sampai tiga gong besar yang berlaras nem sampai gulu rendah. Kebanyakan gong ageng dilaras lima.
q)    Siter atau celempung: ada satu siter atau celempung slendro dan satu siter
atau celempung untuk pelog. Sekarang terdapat satu siter yang dapat digunakan untuk slendro dan pelog. Siter two in one tersebut disebut dengan siter wolak-walik, ditabuh oleh seorang pengrawit.
r)     Suling: satu suling berlubang empat untuk slendro dan satu suling berlubang
lima untuk pelog, dimainkan oleh seorang pengrawit.

4)    Angklung sebagai salah satu kesenian Jawa Barat
Pada zaman kejayaan kerajaan Pajajaran, angklung disamping sebagai alat upacara pertanian, juga dipergunakan sebagai alat musik bagi bala tentara kerajaan dimana untuk menambah semangat tempur dalam menghadapi musuh sebagai alat musik perang pada zaman kerajaan Pajajaran. Kemudian fungsi angklung bergeser sebagai ritual penanaman padi dalam acara mengarak padi dari sawah, di desa lain angklung dipergunakan sebagai sarana penyebaran agama dan kegiatan yang berhubungan dengan pemerintah, kini angklung disajikan sebagai bentuk seni pertunjukan. Angklung memiliki 2 macam, yaitu angklung modern yang menggunakan nada diatonis atau disebut dengan angklung Indonesia, dan aklung tradisi Sungda (pengembangan Udjo Ngalagena) murid pak Daeng, angklung ini berlaras slendri dan pelog.
Description: C:\Users\sulistyo\Downloads\angklung-foto-dari-angklungudjo.blogspot.com_.jpg
Gambar: Angklung Udjo
Sumber: angklungudjo.blogspot.com

Angklung Udjo meliputi jenis permainan angklung, yaitu angklung ‘tradisi’ dan angklung Indonesia. Yang dimaksud dengan angklung tradisi adalah permainan angklung dengan pola-pola tabuhan tradisi yang bersifat ritmis, seperti halnya tabuhan jenis-jenis angklung tradisi pada umumnya. Pola tabuhannya masih tetap berbentuk terputus-putus dengan teknik dimainkan dengan digoyang. Bedanya dengan angklung-angklung tradisi lainnya, angklung tradisi Udjo sudah lebih dikembangkan dari segi pengolahan bunyinya. Bunyi yang dihasilkan dari permainan digoyangkan sudah cenderung merupakan pengulangan melodi pendek-pendek yang dihiasi dengan bunyi panjang unik yang terlahir dari bunyi sebuah angklung yang dimainkan (digoyangkan) secara terus menerus tanpa berhenti.

5)    Sampe sebagai salah satu kesenian Kalimantan Timur
Bentuk Kebudayaan Kalimantan Timur sangat sederhana dan keseniannya terjadi karena kerja sama antar individu, yang pada saat tertentu memperoleh inspirasi karena persentuhannya dengan alam sekitarnya. Perasaan dan pikiran yang diungkapkan adalah manifestasi yang menjadi milik kolektif, karena mereka pula bersama-sama mengerjakan ciptaan tersebut. Dari sinilah terciptanya seni musik dan seni tari tradisional; dan terbentuk dalam pola-pola tertentu lalu berkembang dari masa ke masa, bergandengan erat dengan adat-istiadat, agama, dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat dan dengan demikian menjadi suatu ciri khas daripada seni dan budaya daerah Kalimantan Timur.
Description: C:\Users\sulistyo\Downloads\sampe infofromwe.blogspot.com.jpg
Gambar: Alat Musik Sampe Kalimantan Timur
Sumber: infofromwe.blogspot.com

Jenis alat musik tradisional suku dayak Kenyah adalah sampe. Sampe adalah sejenis alat musik yang dipetik (semacam gitar) mempunyai dawai/tali, kadang-kadang tiga ataupun empat da-wai (tergantung dari kesenangan pemiliknya/pemainnya). Cara memainkannya adalah seperti halnya pada gitar, fungsi tangan kanan adalah untuk memetik nada, sedangkan tangan kiri menekan dawai (dawai I). Kadang-kadang tangan kiri (jari) ikut memetik pula, sambil menekan nada-nada yang dibunyikan sebagai varasi suara.

6.    Seni Drama (Teater)
Seni drama atau teater merupakan jenis seni pertunjukan audio visual karena dapat dicerap melalui indra penglihatan dan pendengaran. Dalam seni drama, kehadiran penonton sama pentingnya dengan pemain di atas panggung. Interaksi yang baik antara di panggung dengan penontonnya merupakan inti peristiwa drama itu sendiri. Seni drama dapat dikatakan sebagai karya sastra yang dilakonkan di atas panggung tertututp maupun terbuka. Keberhasilan sebuah pertunjukan drama sangat bergantung pada keselarasan dan saling menunjangnya antara kegiatan dari pihak pemain dan pihak penonton. Keselarasan dan keseimbangan ini membuka peluang bagi tercapainya nilai-nilai kehidupan sehari-hari, maupun pengalaman keindahan dalam seni. Melalui peristiwa drama, pemain dan penonton dapat meningkatkan pemahaman dan penyadaran pada diri sendiri dan kehidupannya.
Kata tater atau drama berasal dari bahasa Yunani ”theatrom” yang berarti gerak. Tontonan drama memang menonjolkan percakapan (dialog) dan gerak-gerik para pemain (aktif) di panggung. Percakapan dan gerak-gerik itu memperagakan cerita yang tertulis dalam naskah. Dengan demikian, penonton dapat langsung mengikuti dan menikmati cerita tanpa harus membayangkan.
Teater sebagai tontotan sudah ada sejak zaman dahulu. Bukti tertulis
pengungkapan bahwa teater sudah ada sejak abad kelima SM. Hal ini didasarkan temuan naskah teater kuno di Yunani. Penulisnya Aeschylus yang hidup antara tahun 525-456 SM. Isi lakonnya berupa persembahan untuk memohon kepada dewa-dewa.
Lahirnya adalah bermula dari upacara keagamaan yang dilakukan para pemuka agama, lambat laun upacara keagamaan ini berkembang, bukan hanya berupa nyanyian, puji-pujian, melainkan juga doa dan cerita yang diucapkan dengan lantang, selanjutnya upacara keagamaan lebih menonjolkan penceritaan. Sebenarnya istilah teater merujuk pada gedung pertunjukan, sedangkan istilah drama merujuk pada pertunjukannya, namun kini kecenderungan orang untuk menyebut pertunjukan drama dengan istilah teater.
Teater dalam arti luas adalah segala tontonon yang dipertunjukan didepan orang banyak, misalnya wayang golek, lenong, akrobat, debus, sulap, reog, band dan sebagainya. Sedangkan dalam arti sempit adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan diatas pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media: percakapan,gerak dan laku dengan atau tanpa dekor, didasarkan pada naskah tertulis denga diiringi musik, nyanyian dan tarian.
Teater adalah salah satu bentuk kegiatan manusia yang secara sadar menggunakan tubuhnya sebagai unsur utama untuk menyatakan dirinya yang diwujudkan dalam suatu karya (seni pertunjukan) yang ditunjang dengan unsur gerak, suara, bunyi dan rupa yang dijalin dalam cerita pergulatan tentang kehidupan manusia.
Unsur-unsur teater menurut urutannya adalah tubuh manusia sebagai unsur utama (Pemeran/ pelaku/ pemain/actor), gerak sebagai unsur penunjang (gerak tubuh,gerak suara, gerak bunyi dan gerak rupa), suara sebagai unsur penunjang (kata, dialog, ucapan pemeran), bunyi sebagai efek Penunjang (bunyi benda, efek dan musik), rupa sebagai unsur penunjang (cahaya, dekorasi, rias dan kostum), lakon sebagai unsur penjalin (cerita, non cerita, fiksi dan narasi). Teater sebagai hasil karya (seni) merupakan satu kesatuan yang utuh antara manusia sebagai unsur utamanya dengan unsur-unsur penunjang dan
penjalinnya. Dan dapat dikatakan bahwa teater merupakan perpaduan segala
macam pernyataan seni.
a.    Bentuk Teater Indonesia
Indonesia memiliki berbagai bentuk teater yang begitu khas, diantaranya adalah teater rakyat, teater kraton, teater urban, dan teater kontemporer. Pertama, teater rakyat yaitu teater yang didukung oleh masyarakat kalangan pedesaan, bentuk teater ini punya karakter bebas tidak terikat oleh kaidah kaidah pertunjukan yang kaku, sifat nya spontan,improvisasi. Contoh : lenong, ludruk, ketoprak dll.
Kedua, teater kraton yaitu Teater yang lahir dan berkembang dilingkungan keraton dan kaum bangsawan. Pertunjukan dilaksanakan hanya untuk lingkungan terbatas dengan tingkat artistik sangat tinggi,cerita berkisar pada kehidupan kaum bangsawan yang dekat dengan dewa-dewa. Contoh: teater Wayang.
Ketiga, teater urban atau kota-kota. Teater ini Masih membawa idiom bentuk rakyat dan keraton. Teater jenis ini lahir dari kebutuhan yang timbul dengan tumbuhnya kelompok-kelompok baru dalam masyarakat dan sebagai produk dari kebutuhan baru, sebagai fenomena modern dalam seni pertunjukan di Indonesia.
Keempat, teater kontemporer, yaitu teater yang menampilkan peranan manusia bukan sebagai tipe melainkan sebagai individu. Dalam dirinya terkandung potensi yang besar untuk tumbuh dengan kreativitas yang tanpa batas. Pendukung teater ini masih sedikit yaitu orang-orang yang menggeluti teater secara serius mengabdikan hidupnya pada teater dengan melakukan pencarian, eksperimen berbagai bentuk teater untuk mewujudkan teater Indonesia masa kini.
Sebagian besar daerah di Indonesia mempunyai kegiatan berteater yang tumbuh dan berkembang secara turun menurun. Kegiatan ini masih bertahan sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang erat hubungannya dengan budaya agraris (bertani) yang tidak lepas dari unsur-unsur ritual kesuburan, siklus kehidupan maupun hiburan. Misalnya: untuk memulai menanam padi harus diadakan upacara khusus untuk meminta bantuan leluhur agar padi yang ditanam subur, berkah dan terjaga dari berbagai gangguan. Juga ketika panen, sebagai ucapan terima kasih maka dilaksanakan upacara panen. Juga peringatan tingkat-tingkat hidup seseorang (kelahiran, khitanan, naik pangkat/ status dan kematian dll) selalu ditandai dengan peristiwa-peristiwa teater dengan penampilan berupa tarian,nyanyian maupun cerita, dengan acara, tata cara yang unik dan menarik.

b.    Seni Peran
Kekuatan utama yang menjadi daya tarik sebuah pertunjukan teater adalah akting atau tingkah laku para pemain dalam memerankan tokoh yang sesuai dengan tuntutan karakter dalam naskah. Kekuatan inilah yang akan menjadi magnit , bagus , menarik ,indah, punya kekuatan atau tidak berkarakter, tidak menarik bahkan membosankan akan menentukan penonton bertahan
tidaknya ditempat duduknya. Virtuositas adalah kekuatan atau daya tarik seniman yang dilahirkan dari keterampilan,kecerdasan serta pendalaman sepenuh hati dan jiwa pada karya yang ditampilkan, sehingga menimbulkan rasa empati dan simpati bagi yang melihatnya.
Untuk tampil bagus dan menarik dipanggung teater,seorang aktor harus menguasai berbagai tehnik dan keterampilan seni peran. Seperti dikatakan oleh stanislavsky, seorang aktor harus menguasai olah tubuh, vokal, dan harus mempunyai daya konsentrasi, imajinasi, fantasi, observasi sertamempunyai kecerdasan, wawasan, pengetahuan yang luas tentang berbagai hal dalam kehidupannya. Sehingga ketika sorang aktor membawakan peran tokoh dalam sebuah pementasan akan tampil dengan kedalaman karakter yang indah, menarik dan penuh penghayatan yang sesuai dengan tuntutan naskah pertunjukan.
Pemahaman mengenai karakter ini adalah penggambaran sosok tokoh peran dalam tiga dimensi yaitu keadaan fisik, psikis dan sosial. Keadaan fisik meliputi; umur, jenis kelamin, ciri-ciri tubuh, cacat jasmaniah,cirri khas yang menonjol,suku bangsa, raut muka, kesukaan, tinggi/pendek, kurus gemuk, suka senyum atau cemberut dan sebagainya. Keadaan psikis meliputi; watak, kegemaran, mentalitas,standar moral, temperamen,ambisi, kompleks psikologis yang dialami, keadaan emosi dan sebagainya.Keadaan sosiologis meliputi ; jabatan, pekerjaan, kelas sosial, ras, agama, ideologi dan sebagainya, keadaan sosiologis seseorang akan berpengaruh terhadap prilaku seseorang, profesi tertentu akan menuntut tingkah laku tertentu pula. Pencapaian seorang aktor dalam mewujudkan sosok peran sesuai karakter ini juga ditentukan oleh pengalaman dan kepekaannya dalam menghayati kehidupan serta pengalaman tampil dalam berbagai pementasan.
WS. Rendra menyebutkan bahwa dalam pementasan ada empat sumber
gaya yaitu aktor atau bintang, sutradara, lingkungan dan penulis. Aktor atau bintang menjadi sumber gaya artinya kesuksesan pementasan ditentukan
oleh pemain-pemain kuat yang mengandalkan kepopuleran, kemasyuran, ketampanan atau kecantikan atau daya tarik sensualnya. Pemain bintang akan menjadi pujaan penonton dan akan menyebabkan pementasan berhasil. Jika yang dijadikan sumber gaya adalah actor dan bukan bintang maka kecakapan berperan diandalkan untuk memikat penonton. aktor harus menghayati setiap situasi yang diperankan dan mampu secara sempurna menyelami jiwa tokoh yang dibawakan serta menghidupkan jiwa tokoh sebagai jiwa sendiri.

c.    Akting
1)    Pelajaran pertama: Konsentrasi
Pemusatan pikiran merupakan latihan yang penting dalam akting, konsentrasi bertujuan aagar actor dapat mengubah diri menjadi orang lain, yaitu peran yang dibawakan . juga berarti aktor mengalami dunia yang lain dengan memusatkan segenap cita, rasa dan karsanya pada dunia lain itu. Jadi tidak boleh perhatiannya goyah pada dirinya sendiri dan pada penonton. Meskipun lakon berjalan, konsentrasi aktor tidak boleh mengendor, juga jika saat itu tidak kebagian dialog atau gerakan .kesiapan batin untuk mengikuti jalannya cerita sampai berakhir, memerlukan konsentrasi. Latihan konsentrasi dapat dilakukan melalui fisik (seperti yoga), latihan intelek atau kebudayaan (misalnya menghayati musik, puisi, seni lukis) dan latihan sukma (melatihan kepekaan sukma menanggapi segala macam situasi).
2)    Pelajaran kedua: Ingatan Emosi.
The transfer of emotion merupakan cara efektif untuk menghayati
suasana emosi peran secara hidup wajar dan nyata. Jika pelaku harus
bersedih, dengan suatu kadar kesedihan tertentu dan menghadirkan emosi
yang serupa, maka kadar kesedihan itu takatannya tidak akan berlebihan, sehingga tidak terjadi over acting. Banyak peristiwa yang menggoncangkan emosi secara keras dan hanya aktor yang pernah mengalami goncangan serupa dapat menampilkan emosi serupa kepada penonton dengan takaran yang tidak berlebihan.
3)    Pelajaran ketiga: Laku Dramatik
Tugas utama aktor menghidupkan atau memperagakan karakter tokoh yang diperankannya, dan menghidupkan aspek dramatisasi melalui ekspresi atau mimik wajah melalui dialog, dan pemanfaatan seting pendukung (misal membanting). Aktor harus selalu mengingat apa tema pokok dari lakon itu dan dari perannya, untuk menuju garis dan titik sasaran yang tepat dengan begitu ia
dapat melatih berlaku dramatik Artinya bertingkah laku dan berbicara bukan sebagai dirinya sendiri, tetapi sebagai pemeran, untuk itu memang diperlukan penghayatan terhadap tokoh itu secara mendalam sehingga dapat diadakan adaptasi.
4)    Pelajaran keempat: Pembangunan watak
Setelah menyadari perannya dan titik sasaran untuk peranannya itu aktor harus membangun wataknya sehingga sesuai dengan tuntutan lakon. Pembangunan watak itu didahului dengan menelaah struktur fisik, kemudian mengidentifikasiannya dan menghidupkan watak itu seperti halnya wataknya
sendiri. Dalam proses terakhir itu diri aktor telah luluh dalam watak peran yang dibawakannya, atau sebaliknya watak peran itu telah merasuk kedalam diri sang aktor.
5)    Pelajaran Kelima: Observasi
Jika ingatan emosi, laku dramatik dan pembangunan watak sulit dilakukan secara personal, maka perlu diadakan observasi untuk tokoh yang sama dengan peran yang dibawakan. Untuk memerankan tokoh pengemis dengan baik , perlu mengadakan observasi terhadap pengemis dengan ciri fisik, psikis dan sosial yang sesuai.
6)    Pelajaran Keenam: Irama
Semua kesenian membutuhkan irama, akting seorang aktor juga harus diatur iramanya, agar titik sasaran dapat dicapai, agar alur dramatik dapat mencapai puncak dan penyelesaian. Irama juga memberikan variasi adegan, sehingga tidak membosankan. Irama permainan ditentukan oleh konflik yang terjadi dalam setiap adegan.
Suara dan cakapan adalah dua hal pokok yang harus digarap dengan nada yang sesuai, karena keduanya sangat menentukan suksesnya pementasan. Siswa perlu dilatih mengucapkan vocal a, I, u, e, o dengan mulut terbuka penuh. Mungkin dalam percakapan sehari-hari ini tidak perlu; akan tetapi di pentas, hal-hal yang sehari-hari perlu diproyeksikan karena suara diharapkan dapat sampai pada penonton di deretan tempat duduk paling belakang.
Ada kalanya seorang pemain mampu mengucapkan kata dengan jelas atau “las-lasan”, tetapi toh dialog yang diucapkannya tidak merangsang pengertian. Jika ini terjadi, maka persoalannya pada apa yang lazim disebut phrasering technique atau teknik mengucapkan dialog. Kalimat atau dialog yang panjangharus dipenggal-penggal lebih dahulu, sesuai denga satuansatuan pikiran yang dikandungnya.
Satu hal lagi yang masih berhubungan dengan latihan vokal ialah perlunya dipahami adanya nada ucapan. Kata “gila” dapat berarti umpatan keras, pujian, kekaguman, jika diucapkan dengan nada yang berbeda-beda. Ini artinya nada ucapan tidak hanya berfungsi untuk menciptakan dinamika, tetapi juga menciptakan makna.
Pada saat pemain mengucapkan dialog, kata-kata ternyata tidak diucapkan datar, tetapi terkandung di dalamnya lagu kalimat. Lagu kalimat itu menyarankan pertanyaan, perintah, kekaguman, kemarahan, kebencian, kegembiraan, dan sebagainya. Di samping itu, lagu kalimat juga menyarankan dialek tertentu,  misalnya dialek Jawa seperti terdengar dari lagu kalimat yang diucapkan pemeran dalam drama seri Losmen; dalam film Naga Bonar terdengar lagu kalimat yang menyarankan dialek Batak

d.    Gaya Akting
Pemahaman dan penafsiran tentang prinsip berteater, dalam proses aktualisasinya oleh para seniman penggarap atau sutradara, terbagi dalam
dua pemahaman yang berbeda yaitu:
Teatrikalisme adalah praktek berteater yang bertolak dari anggapan bahwa teater adalah Teater. Suatu dunia dengan kaidah-kaidah tersendiri yang berbeda dengan kaidah-kaidah kehidupan, teater tidak perlu sama dengan kehidupan kehidupan distilasi (digayakan) dan didistorsi (dirusak), prinsip seperti ini dapat kita lihat dalam teater-teater tradisional. Atau teater-teater kontemporer. Melahirkan gaya akting grand style ( akting di besar-besarkan) dan Komikal yaitu gaya akting dengan mengekplorasi kelenturan tubuh sehingga menampilkan tubuh-tubuh dengan gestikulasi yang unik dan lucu.
Realisme adalah eater harus merupakan ilusi atau cermin kehidupan nyata (Realitas). Teater Ilusionis, kehidupan ditiru setepat mungkin agar ilusi tercapai. pemahaman ini berkembang dalam teater barat (konvensional). Gaya aktingnya adalah gaya realis yaitu wajar mirip dengan gaya kehidupan sehari-hari.
Description: C:\Users\sulistyo\Downloads\monolog-realis laeliya.wordpress.com.jpg
Gambar: Monolog Realis
Sumber: laeliya.wordpress.com

Untuk melatih teknik keaktoran maka diperlukan naskah sebagai pijakan dalam mewujudkan suatu peranan. Dibawah ini terdapat beberapa cuplikan naskah dari beberapa penulis drama yang sudah terkenal, dengan berbagai gaya penulisan naskah yang dapat kalian mainkan sebagai latihan pemeranan.

e.    Unsur-unsur Pementasan
1)    Naskah
Naskah adalah karangan yang berisi cerita atau lakon. Dalam naskah tersebut termuat nama-nama dan lakon tokoh dalam cerita, dialog yang diucapkan para tokoh dan keadaan panggung yang diperlukan. Bahkan kadang-kadang juga dilengkapi penjelasan tentang tata busana, tata lampu dan tata suara (musik pengiring).
2)    Pemain
Pemain adalah orang yang memeragakan cerita, berapa jumlah pemain yang disesuaikan dengan tokh yang dibutuhkan dalam cerita, setiap tokoh akan diperankan seorang pemain
3)    Sutradara
Sutradara adalah pemimpin dalam pementasan, tugas sutradara sangat
banyak dan beban tanggung jawabnya cukup berat, sutradara memilih
naskah, menentukan pokok-pokok penafsiran naskah, pemilihan pemain,
melatih pemain dan mengkoordinasikan setiap bagian
4)    Tata Rias
Fungsi tata rias adalah menggambarkan tokoh yang dituntut misalnya seorang pemain memerankan tokoh kakek maka wajah dan rambutnya dibuat tamak tua.
5)    Tata Busana
Penata rias dan penata busana harus bekerjasama saling memahami, saling menyesuaikan, penata ris dan penata busana harus mampu menafsirkan dan memantaskan ris dan pakaian yang terdapat dalam naskah cerita misal tokoh nenek melarat, maka pakaian yang dikenakan tidak menggunakan pakaian yang bagus dan mahal, karena kesalahan dalam busana dapat juga mengganggu jalannya cerita.
6)    Tata Lampu
Pengaturan cahaya di panggung dibutuhkan untuk mendukung jalan cerita yang menerangkan tempat dan waktu kejadian pada sebuah cerita, untuk menggambarkan kejadian pada malam hari atau siang hari, menggambar kejadian misal di tempat romantis.
7)    Tata Suara
Musik dalam pertunjukan drama adalah untuk mendukung suasana, misal penggambaran kesedihan, ketakutan, kemarahan dan lain-lain misal penggambaran cerita kesedihan seorang anak, kalau diiringi musik yang sesuai, tentu kesedihan ini akan lebih terasa diiringi musik berirama lembut, alat musik yang digunakan hanya seruling yang mendayu-dayu, ketika adegan kemarahan diiringi musik berirama cepat dan keras, penata musik berirama cepat lagu yang sudah ada ataupun menciptakan lagu sendiri, penata suara harus memiliki kreativitas yang tinggi.
8)    Penonton
Penonton termasuk unsur penting dalam pementasan. Bagaimanapun sempurnanya persiapan, kalau tak ada penonton rasanya tak akan dimainkan. Jadi, segala unsur yang telah disebutkan sebelumnya pada akhirnya untuk penonton.

f.     Unsur-unsur Lakon Teater
1)    Tema cerita
Agar cerita menarik perlu dipilih topik, contoh tema masalah Keluarga
topiknya misal Pilih Kasih
2)    Amanat
Sebuah sajian drama yang menarik dan bermutu adalah memiliki pesan
moral yang ingin disampaikan kepada penonton.
3)    Plot
Lakon drama yang baik selalu mengandung konflik, plot adalah jalan
cerita drama. Plot drama berkembang secara bertahap, mulai dari konflik
yang sederhana hingga menjadi konflik yang kompleks sampai pada penyelesaian konflik. Penyelesaian konflik ada yang happy ending, atau berakhir sedih atau penonton disuguhkan cerita dengan menafsirkan sendiri akhir cerita. Ada enam tahapan plot :
a)    Eksposisi, Tahap ini disebut tahap pergerakan tokoh
b)    Konflik, Dalam tahap ini mulai ada kejadian
c)    Komplikasi, Kejadian mulai menimbulkan konflik persoalan yang kait-mengkait tetapi masih menimbulkan tanya tanya.
d)    Krisis, Dalam tahap ini berbagai konflik sampai pada puncaknya
e)    Resolusi, Dalam tahap ini dilakukan penyelesaian konflik
f)     Keputusan Adalah akhir cerita
4)    Karakter
Karakter atau perwatakan adalah keseluruhan ciri-ciri jiwa seorang
tokoh dalam drama. Ada tokoh berwatak sabar, ramah dan suka menolong, sebaliknya bisa saja tokoh berwatak jahat ataupun bisa juga tokoh berdialek
suku tertentu.
5)    Dialog
Jalan cerita lakon diwujudkan melalui dialog dan gerak yang dilakukan para pemain. Dialog-dialog yang dilakukan harus mendukung karakter tokoh yang diperankan dan dapat menghidupkan plot lakon.
6)    Setting
Setting adalah tempat, waktu, dan suasana terjadinya suatu adegan.
Karena semua adegan dilaksanakan di panggung maka panggung harus bisa menggambarkan setting apa yang dikehendaki. Panggung harus bisa
menggambarkan tempat adegan itu terjadi: di ruang tamu, di rumah sakit, di tepi sungai, di kantin, atau di mana? Penataan panggung harus
mengesankan waktu: zaman dahulu, zaman sekarang, tengah hari, senja,
dini hari, atau kapan? Demikian pula unsur panggung harus diupayakan bisa
menggambarkan suasana: gembira, berkabung, hiruk pikuk, sepi  encekam,
atau suasana-suasana lain. Semua itu diwujudkan dengan penataan
panggung dan peralatan yang ada. Panggung dan peralatan biasanya amat terbatas. Sementara itu, penggambaran setting sering berubah-ubah hampir setiap adegan. Bagaimana caranya? Penata panggung yang mengatur semua itu. Karena itu, penata panggung harus jeli dan pandai-pandai memanfaatkan dan mengatur peralatan yang terbatas itu untuk sedapat-dapatnya menggambarkan tempat, waktu, dan suasana seperti yang dikehendaki lakon drama.
7)    Interpretasi
Apa yang dipertontonkan ceritanya harus logis, dengan kata lain lakin
yang dipentaskan harus terasa wajar. Bahkan harus diupayakan menyerupai
kehidupan yang sebenarnya.



Daftar Pustaka
Balitbang Kerajinan dan Batik. 1991. Pengetahuan teknologi batik.
Yogyakarta.

Tylor, Edward B. 1958. Primitif Culture. New York: Harper Torchbooks.

Kriya Indonesia Craft. 2007. DEKRANAS

Muhadjir. 1986. Peta Seni Budaya Betawi. Jakarta : Dinas Kebudayaan DKI
Jakarta.

Jacob Sumarjo. 2000. Filsafat Seni. Bandung : IBT Bandung.

Gie The Liang. 1976. Filsafat Keindahan. Yogyakarta: Kanisius.

Soedarsono. 1977. Tari-tarian Indonesia I. Jakarta: Dirjen Kebudayaan,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Dewantara, Ki Hadjar. 1967. Kebudayaan II A, Yogyakarta: Majelis Luhur
Persatuan Taman Siswa

Koentjaraningrat. 1974. Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan. Jakarta:
Gramedia.

Munandar, Utami. 1996. Mengembangkan bakat dan kreativitas anak
sekolah. Petunjuk bagi para guru dan orang tua. Jakarta : Gramedia
Widiasarana Indonesia Jakarta.

Sanyoto, Sadjiman, Ebdi. 2005. Dasar-dasar tata rupa dan desain (Nirmana)
Yogyakarta : CV. Arti Bumi Intan.

Tilaar. 1999. Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia. Bandung: Ramaja Rosdakarya.


Nooryan Bahari. 2014. Kritik Seni: Wacana, Apresiasi, dan Kreasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

cara melihat kata kunci populer di google

Anda dapat melihat kata kunci populer di Google dengan menggunakan Google Trends. Berikut ini adalah cara melihat kata kunci populer di Goog...